Kesetiaan Seorang Hamba
Dalam bukunya, "The Christian Mind", Harry Blamires menulis sesuatu yang menarik tentang kesetiaan. Menurutnya, kesetiaan adalah "suatu kebajikan yang palsu yang sering dimanfaatkan untuk menutup-nutupi kegiatan yang tidak bermoral". Selanjutnya, ia mengemukakan bahwa kesetiaan itu dapat dikatakan buruk, dalam arti bahwa jika sesuatu kegiatan dibela atas dasar semata-mata kesetiaan saja, maka pembelaan itu sekali-kali tidak memunyai dasar rasional. Dengan kata lain, kesetiaan seperti yang sering kita jumpai, sekali-kali bukan suatu kebajikan Kristen.
Apabila orang-orang menuntut sesuatu atas dasar kesetiaan, maka jelas bahwa apa yang dituntut itu adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip etika: setia kepada perusahaan meskipun tahu bahwa perusahaan itu melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan; setia kepada kawan supaya kawan jangan mendapat malu; setia kepada negara meskipun itu berarti terlibat dalam suatu manipulasi yang rendah dalam dunia internasional; setia kepada bangsa meskipun itu berarti menindas bangsa-bangsa lain dan bertentangan dengan perintah Allah untuk mengasihi. Integritas adalah suatu kebajikan Kristen, tapi kesetiaan yang buta sekali-kali bukan.
Masalah ini istimewa dan menarik perhatian seseorang yang tinggal di Jepang. Di sana, kesetiaan itu disanjung secara berlebih-lebihan sebagai suatu kebajikan. Sejarah dan literatur penuh dengan kisah-kisah tentang kesetiaan sampai mati terhadap tuannya, meskipun kegunaannya tak bisa dipetiknya, sebab ia sudah telanjur mati.
Bagi orang luar, hal ini mengagumkan dan serentak agak tolol nampaknya. Tapi bagi orang Kristen yang berpikir lebih mendalam, kesetiaan semacam itu mirip suatu penyembahan kepada berhala. Tidak wajar bahwa manusia yang satu rela bunuh diri atau membunuh orang lain melulu berdasarkan kesetiaan kepada seorang manusia. Bagi pemikiran Kristen, kesetiaan itu baru suatu kebajikan kalau dihubungkan dengan pengabdian kepada Allah, dan kata-kata yang dipakai untuk menyatakannya ialah biasanya kata-kata seperti kebaktian, pemuliaan, dan ketaatan.
Menurut Harry Blamires, yang bukunya tadi disinggung, kesetiaan kepada seseorang, kepada partai, kepada negara, dan kepada suatu perjuangan tergantung dari pertanyaan apakah orang, partai, negara atau perjuangan itu berada dalam kebenaran pada saat kesetiaan itu dituntut. Apabila berada dalam kebenaran, maka kesetiaan itu tidak perlu lagi dituntut karena sudah semestinya. Tapi apabila kita berbicara tentang Allah, maka kita sadar bahwa Dia bukan sekadar benar dan baik, melainkan benar dan baik secara mutlak. Boleh jadi kita sewaktu-waktu mengalami cobaan dalam kesetiaan kita kepada Allah. Namun, pergumulan tersebut akan membawa kita pada sikap percaya dan mengandalkan Allah atau tidak. Pada akhirnya, kesetiaan itu akan merupakan ungkapan positif dari kepercayaan dan sikap mengandalkan Allah.
Kesetiaan Yesus ditantang oleh Iblis pada mulanya, tatkala Iblis menawarkan suatu jalan keluar yang mudah sekali untuk menghindari kematian di kayu salib: "jika Engkau sujud menyembah aku" (Mat. 4:9-10). Tuhan menjawab, "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Kata Yunani di sini ialah "latreuo", artinya kebaktian agamawi.) Tapi kesetiaan Yesus nyata juga dalam kehidupan-Nya sehari-hari: "Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (yang dimaksud Sang Bapa, Yoh. 8:29). Puncak kesetiaan Yesus ialah seperti yang dinyatakan-Nya dalam kata-kata-Nya di Taman Getsemani, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Luk 22:42)
Tantangan akan kesetiaan kepada Allah ini secara gamblang dihadapkan kepada orang Kristen: "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Mat. 6:24). Di sini jelas kita lihat bahwa seseorang tak mungkin menjadi hamba kepada dua tuan. Hal ini lebih nyata lagi dalam Lukas 16:13, di mana kata untuk "pelayan" ialah kata yang dipakai untuk "pelayan rumah tangga"; seseorang tak mungkin melayani dua rumah tangga pada saat yang bersamaan. Itulah masalahnya: apakah saya mutlak milik Tuhan dan rumah tangga-Nya atau tidak?
Hal ini dilihat dengan jelas oleh perwira itu: "Jika aku berkata ... kepada hambaku, kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya" (Mat. 8:9). Ia mengerti bahwa Yesus berdaulat atas segala hal. Apabila Yesus adalah Tuhan, maka saya harus mengakui kedaulatan-Nya secara mutlak. Keadaan saya tidak mengizinkan saya untuk memilih ini atau itu, memisahkan mana yang saya suka turuti dan mana tidak. Dari diri saya diminta suatu kesetiaan tanpa syarat terhadap perintah-perintah Yesus.
Tentu akan sering terjadi bahwa kita dihadapkan kepada konflik antara kesetiaan kita kepada keluarga sendiri dan kesetiaan kepada Kristus (Mat. 10:34-39). Dalam hal ini tentu tak ada keragu-raguan mana yang harus didahulukan. Ia memiliki prioritas yang tertinggi di atas sekalian handai tolan dan orang-orang yang kita kasihi. Pada dasarnya, jika kita mengasihi mereka, kita juga menyenangkan hati Tuhan, tapi ada kesempatan-kesempatan di mana kita harus menghadapi konflik, teristimewa kalau mereka yang kita kasihi itu bukan orang Kristen. Kita mungkin menghadapi konflik dalam hal kawin atau tidak dengan seorang penganut agama lain, dalam hal penggunaan hal libur, uang, dan sebagainya.
Konflik ini timbul juga dalam hubungan-hubungan yang lain. Apakah akan menonton pertandingan bola atau pergi ke gereja, apakah akan menggunakan waktu kebaktian untuk belajar menjelang ujian? Mana yang harus diutamakan? Pilihan itu mungkin antara giat secara aktif dalam gerakan mahasiswa Kristen atau pergi berpacaran, menghadiri malam penelaahan Alkitab atau pergi menikmati permainan musik grup luar negeri. Kristus menuntut prioritas atas segala hal. Pilihan antara yang baik dan yang lebih baik, adalah lebih sukar daripada pilihan antara yang baik dan yang buruk.
ua Jenis Gembala
Gembala Domba berbulu serigala selalu menjadikan Kesetiaan menjadi sebuah Pilihan, dimana ia dapat memilih untuk mau setia atau tidak..Tetapi Gembala Domba yang sebenarnya, selalu menjadikan Kesetiaan itu sebagai "Sebuah Harga Mati" yg harus dipertahankan.
BENTUK KESETIAAN DALAM MENGHADAPI PENDERITAAN ( 1 Petrus 4 : 1 – 11)
Ada seorang suami yang setia dan seorang istri yang tidak setia. Pada suatu hari ketika pulang bekerja dari kantor, tanpa sengaja suami yang setia ini melewati warung kopi yang berada disamping rumahnya. Ketika dia melangkahkan kakinya, tanpa sadar ia mendengarkan beberapa tetangganya yang sedang duduk-duduk di warung tersebut memperguncingkan tentang kelakuan istrinya yang suka membawa laki-laki lain ke dalam rumah mereka ketika ia tak berada dirumah. Hal ini pun membuat sang suami tersebut terkejut, namun suami ini adalah suami yang baik sehingga ketika dia mendengar perbuatan istrinya itu, ia tidak langsung begitu saja mempercayai apa yang ia dengar namun jauh dalam hatinya ia mau membuktikannya dulu dengan mata kepalanya sendiri. Beberapa hari kemudian ia mendapatkan tugas dari kantor untuk mengawasi proyek yang berada diluar kota dan membutuhkan waktu tiga hari. Ketika ia mau berangkat, seperti biasanya ia pun berpamitan dengan istrinya dengan berkata ” Mami sayang, papi mungkin mau pergi selama tiga hari, tapi sebelum papi jalan, papi mau menggambar Cicak di leher mami ”. Mendengar hal itu istrinya pun terkejut dan berkata ” maksudnya apa sih papi !! kok pake acara gambar cicak segala ? ” lalu sang suami pun berkata : ” Maksudnya kalo nanti mami selingkuh dengan laki-laki lain pasti akan ketahuan karena gambar cicaknya akan terhapus ”. kemudian sang suamipun menggambar seekor cicak lengkap dengan ekornya serta posisi mata cicak tersebut dalam keadaan terbuka. Lalu berangkatlah suami tersebut selama tiga hari lamanya. Ketika sang suami tak berada dirumah, istrinya pun mulai memanggil teman laki-lakinya untuk berselingkuh selama tiga hari. Setelah tiba waktunya hari ketiga sang istri pun bingung karna gambar cicak yang ada dilehernya telah terhapus akibat perselingkuhan yang ia lakukan. Karena itu dia pun memanggil teman selingkuhannya untuk menggambar ulang cicak tersebut. namun teman selingkuhannya itu menggambar seekor cicak yang tidak sama dengan apa yang digambarkan oleh suaminya, dimana ia menggambar cicak tersebut dengan posisi matanya dalam keadaan tertutup. Ketika suaminya tiba dirumah dan melihat gambar cicak tersebut dalam keadaan matanya tertutup, maka berkatalah suami itu kepada istrinya : ”Mami kok mata cicaknya tertutup ? waktu papi gambar kan matanya terbuka ? kok papi pulang mata cicaknya jadi tertutup ? ” mendengar itu sang istri pun menyahut dengan tanpa dosa ” Soalnya papi perginya lama sih!!makanya Cicaknya Mati.....”
Saudara yang kekasih, siapapun di dunia ini tentunya setuju bahwa dalam kehidupan dibutuhkan kesetiaan dalam segala hal, dan juga dalam segala bidang!
Ø Kesetiaan dari Para pemimpin bangsa dalam tugas pengabdian mereka terhadap bangsa dan Negara adalah hal yang begitu di dambakan oleh rakyat, dan betapa bahagia bangsa yang memiliki pemimpin yang melayani, bukan pemimpin yang ditaktor, atau pemimpin berlaku sewenang-wenang dengan kekuasaannya. Tetapi Kesetiaan ini juga bukan hanya untuk para pemimpin dalam suatu Negara, tetapi juga berlaku untuk segenap lapisan masyarakat dengan tugas panggilannya masing-masing. Dimana semua anak bangsa, sebagai bagian dari masayarakat juga setia terhadap bangsa dan Negaranya.
Ø Kesetiaan Para suami dan isteri untuk tetap menjaga janji dan ikrar cinta yang diucapkan terhadap pasangannya masing masing, yang tidak goyah dimakan waktu , yang tidak berubah karena keadaan, atau juga kesetiaan para orang tua yang menjalankan tugas dan peranan dengan mengayomi anak-anaknya bertumbuh dalam biduk kasih dalam relasi ayah dan ibunya, dan kesetiaan dari anak-anak yang menjawab respon dari orang tua mereka dengan menjadi anak-anak yang baik yang belajar dengan baik
Ø Kesetiaan terhadap profesi, dimana setiap orang sesuai peranannya masing-masing menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin, dalam bidang pemerintahan, keamanan, peradilan, bisnis dan , keamanan, pendidikan, riset dan Teknologi dll.
Ø Kesetiaan Umat Tuhan kepada Tuhannya, seperti yang Nabi Hosea sampaikan bahwa “ "Engkau ini harus berbalik kepada Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah Allahmu senantiasa."(Hos 12:7) kata kasih disini adalah perkataan Ibrani yang berarti “hesed” yang dapat diekpresikan kesetiaan dan setia adalah seharusnya kharakteristik dari umat Allah, kepada Allah.
Saudara Yang kekasih, Sebab itu Kesetiaan adalah bukan pilihan, tetapi adalah keharusan, namun sayang sekali ternyata dalam kehidupan ini rupanya kesetiaan bukan menjadi keharusan, sehingga lebih mirip pilihan dan akibatnya orang yang setia menjadi begitu langka, seperti yang dikatakan kitab Amsal “ Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?(Ams 20:6). Kesetiaan kepada Tuhan, begitu diharapkan ditemukannya diantara umat manusia seperti yang diserukan Nabi Mika ataupun seruan Tuhan Yesus kepada para ahli Taurat dan orang Farisi( Mik 6:8 bdk Mat 23:23). Pertanyaan bagi kita Apakah Kesetiaan kepada Tuhan itu masih ada? Lalu mengapa ketika kita tidak berdaya, kita harus tetap setia ? Serta apakah wujud dari Kesetiaan itu ? untuk itu pada kesempatan ini mari sama-sama kita melihat bagaimana Bentuk Kesetiaan yang di tawarkan lewat pembacaan Kitab 1 petrus 4 : 1-11. Saudara yang kekasih, surat ini ditulis oleh Rasul petrus yang merupakan saksi hidup ketika Yesus Kristus ditangkap dan diadili serta mengalami penderitaan diatas kayu salib, dimana Rasul petrus menulis surat ini lewat perantaraan seseorang yang bernama Silwanus atau Silas ( Kisah 6 : 37-38) dari suatu tempat yang disebut babilon, dan pada saat itu Sang rasul ditemani oleh anak rohaninya yaitu Markus (1 Petrus 5:12-13).
Kalau kita melihat pada fasal 1 dari surat 1 Petrus ini, maka jelaslah bahwa Rasul petrus menulis surat ini di tujukan kepada orang-orang pendatang yang tersebar di kota Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia kecil dan Bitinia, dimana orang-orang tersebut telah dipilih sesuai dengan rencana Allah dan yang dikuduskan oleh Roh supaya mereka taat dan menerima percikan darahNya (dimana lewat Kematian Kristus mereka dapat memperoleh Keselamatan). Lalu dalam kondisi bagaimanakah Rasul petrus menulis surat ini? serta apa sebenarnya yang diinginkan Rasul Petrus dari Jemaat-Jemaat tersebut ? Atas dasar 1 Petrus 4 : 14-16, dikemukakan bahwa sebenarnya surat ini ditulis ketika orang-orang Kristen menjadi korban perbuatan jahat, dimana Pemerintah dan orang-orang yang bukan orang kristen pada saat itu berusaha untuk mencari-cari kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen. Sehingga pokok pembicaraan Rasul Petrus dalam Fasal 2-4 lebih ditekankan kepada bagaimana orang-orang Kristen harus berusaha untuk hidup tanpa bersalah yang artinya bahwa dengan melihat pada situasi Politik yang tidak Stabil dan supaya orang-orang Kristen tidak difitnah dan diserang, maka hendaklah mereka hidup dengan ” mencerminkan kesetiaan kepada Allah ”. Ada dua hal penting yang menjadi pertimbangan Sang Rasul dalam menulis Surat ini kepada jemaat-jemaat Tuhan, yaitu :
- Sang Rasul melihat bahwa ketika orang-orang Kristen itu hidup dalam Kesetiaan kepada Allah dengan tanpa melakukan perbuatan duniawi, maka mereka akan diluputkan dari fitnah dan jebakan-jebakan yang akan menjebak mereka.
- Sang rasul menyadari bahwa jemaat-jemaat Tuhan yang tersebar di kota Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia kecil dan Bitinia ini adalah orang-orang yang dulunya hidup dalam hawa nafsu dan keinginan duniawi ( 1 Petrus 4: 3-4 ) dimana mereka kemudian bertobat dan mengambil komitmen untuk mengikuti Yesus. Artinya bahwa dengan membaca surat ini Rasul Petrus berharap agar mereka tetap selalu setia dan tidak meninggalkan Allah ketika cobaan datang menghampiri dan merongrong kehidupan mereka.
Dari ke-dua alasan yang sangat mendasar diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya Rasul Petrus menyadari betul bagaimana beban dan penderitaan Jemaat Tuhan dalam mengikuti Yesus. Sang Rasul menyadari bahwa bukan hanya terjadi pada Jemaat-Jemaat di kota Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia kecil dan Bitinia. tetapi sesungguhnya ketika orang melayani Tuhan pastilah mereka akan mengalami intimidasi – intimidasi dan dibenci oleh karena Nama dan Ajaran Yesus seperti yang tertulis dalam Kitab Matius 10 : 22. Lalu apakah dengan penderitaan yang dialami ini orang-orang kristen harus menyerah dengan keadaan ? ataukah berpaling dan meninggaalkan Yesus ? sekali lagi, Kesetiaan adalah keharusan dan bukanlah suatu pilihan, dimana kita sebagai orang kristen dapat memilih mau setia atau tidak. untuk itu mari kita melihat disini ada 3 Bentuk Kesetiaan yang ditawarkan oleh rasul Petrus kepada kita ketika kesusahan serta penderitaan itu menghampiri kehidupan kita
- Hidup di dalam Doa ( 1 Petrus 4 : 7)
Doa adalah merupakan salah satu unsur terpenting dalam membangun relasi atau hubungan dengan Allah. Ketika orang kristen mau bertemu atau mau menceritrakan persoalan-persoalan kehidupan yang ia alami kepada Allah, tentulah kita tidak dapat bertemu dengan Allah secara fisik atau empat mata. Tetapi sesungguhnya kita dapat melakukannya hanya didalam Doa. Rasul petrus menyarankan kepada jemaat-jemaat Tuhan pada saat itu agar selalu menguasai diri dengan tenang agar dapat berkomunikasi dengan Allah melalui Doa. Artinya bahwa dengan situasi dan kondisi yang dialami Jemaat Tuhan pada waktu itu, maka hal yang pertama yang harus dilakukan adalah menguasai diri dengan tenang agar dapat Berdoa. karena lewat Doa, Allah bisa melepaskan kita dari kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Yesus hanyalah sejauh Doa untuk itu ” Mintalah maka akan diberikan kepada kita ( Matius 7:7 ). Ketika kehidupan kita tidak berdaya dan kita merasa bahwa hidup ini tidak berarti maka marilah kita datang kepada Kristus dengan perantaraan sebuah Doa yang kita panjatkan. Jadi bentuk Kesetiaan kita kepada Allah yang pertama adalah Doa.
- Hidup didalam Kasih ( 1 Petrus 4 : 8 )
Terkait dengan Kasih, disini rasul petrus sangat menekankan kehidupan kasih dengan kalimat ” Tetapi yang terutama ”. Hal ini berarti bahwa Kasih adalah merupakan sesuatu yang sangat besar manfaat serta nilainya bagi kehidupan orang-orang percaya. Karena diantara Iman, Pengharapan dan Kasih, hal terbesar adalah Kasih ( 1 Korintus 13 : 13 ). Tidak ada gunanya orang kristen jika tidak memiliki kasih dalam kehidupannya. Kasih yang diharapkan rasul Petrus disini adalah suatu kehidupan kasih yang mencerminkan Kasih Kristus yang telah mati diatas kayu salib demi untuk menebus dosa-dosa manusia. dimana cermin daripada Kasih yang sejati adalah Kasih yang tidak mengharapkan imbalan apa-apa. dan untuk itu rasul Petrus sangat mengharapkan jemaat-jemaat Tuhan untuk mengasihi dengan sungguh-sungguh seorang dengan yang lainnya tanpa mengharapkan imbalan ( 1 Petrus 1 :22 ). Lalu apa itu Kasih dan bagaimanakah kehidupan didalam Kasih ? mari kita melihat definisi kehidupan Kasih pada kitab 1 Korintus 13 : 4-7. karena Kasih kita juga dapat mengampuni kesalahan orang lain (Matius 6 : 14-15 ). Karena Kasih Allah yang sangat Besar telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa kita agar kita layak dihadapan Allah. Maka untuk itu selayaknyalah kita orang-orang Kristen hidup didalam Kasih yang mencerminkan Kesetiaan kita kepada Allah.
- Mempergunakan Karunia yang Allah berikan untuk melayani Tuhan dan sesama ( 1 Petrus 4:10 )
Setiap orang kristen diberikan Karunia serta talenta oleh Allah untuk dapat dipergunakan dalam pelayanan kita kepada Allah, baik itu talenta atau karunia melayani, berbicara, bermain musik dan lain.untuk itu setiap apa kelebihan yang ada dalam diri kita, hendaklah kita pakai untuk kemuliaan nama Tuhan. Bukan untuk kita tetapi untuk Allah. Kalau kita melihat realita sekarang ini, ada begitu banyak anak-anak Tuhan seperti artis-artis dan penyanyi-penyanyi yang memiliki karunia yang luar biasa tapi semuanya itu mereka lakukan untuk mencari popularitas diri mereka sendiri. Rasul petrus menekankan disini bahwa semua kelebihan serta talenta yang ada pada diri kita, hendaklah kita gunakan agar Allah Dipermuliakan. Karena Yesus Kristuslah yang mempunyai kemuliaan sampai selamanya ( 1 petrus 4 : 11).
Demikianlah 3 bentuk Kesetiaan yang telah diajarkan rasul petrus kepada kita, agar dapat kita terapkan dalam kehidupan rohani kita orang-orang percaya.
Saudara-saudara yang kekasih, mungkin didalam kehidupan kita sering atau selalu hidup dengan berbagai persoalan yang dapat membuat kita tidak berdaya dan tidak mampu untuk keluar dari segala macam himpitan-himpitan hidup yang menghampiri kita, sehingga hal ini membuat kita tidak lagi mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita. Ataukah mungkin kita mengalami suatu situasi dimana kita telah melakukan sesuatu yang benar, tetapi keadaan justru menjadi buruk? Apakah itu menunjukkan kita adalah orang jahat?dan apakah itu berarti Allah menolak kita? Mungkin Yusuf juga memiliki pertanyaan serupa di sepanjang peristiwa yang tercatat dalam Kejadian 39. Masalahnya bermula tatkala ia dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Sejak itu, meski ia telah berlaku sangat baik, namun masalah terus menguntitnya. Sebagai contoh, walaupun Yusuf menjaga integritasnya, namun ia dituduh melakukan kejahatan serius terhadap istri Potifar, majikannya. Potifar menanggapi hal itu dengan menjebloskan Yusuf ke dalam penjara. Yusuf, seorang yang baik, jujur, percaya pada Allah, merana dalam penjara Mesir. Mengapa Allah tidak melepaskannya? Mengapa kebenaran itu tidak terusut? Bukankah keadaan benar-benar tampak tidak adil? Selama beberapa waktu tak terjadi sesuatu pun pada diri Yusuf. Namun, yang penting di sini adalah, "TUHAN menyertai Yusuf " (39:21). Allah sedang menjalankan rencana-Nya, dan untuk sementara waktu Yusuf harus tinggal di penjara orang Mesir. Apa yang tampaknya buruk, sesungguhnya baik, karena itu adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna.
Bagaimana dengan kita orang-orang percaya pada saat ini ? ditengah kehidupan yang semakin susah apakah kita harus meninggalkan Allah ? ataukah kita tidak setia seperti ilustrasi diatas dimana seorang istri tidak setia kepada suaminya ?
Saudara-saudara yang kekasih, sekali lagi Rasul Petrus memberikan kita 3 bentuk kesetiaan kepada kita orang-orang percaya pada saat ini yaitu Hidup didalam Doa, Hidup didalam Kasih dan Mempergunakan karunia kita untuk melayani Tuhan dan sesama kita. Untuk itu marilah kita hidup didalam kesetiaan kepada Allah dengan melakukan ketiga hal tersebut. dan sekali lagi, kita harus mengambil sikap seperti Yusuf yang dalam keadaan sukar sekalipun ia tetap setia kepada Allah. Pastikan bahwa kita sedang melakukan apa yang benar. Taatilah Allah dan tetaplah berada di dekat-Nya. Kemudian, berdiam dirilah dan perhatikanlah bagaimana Dia mengerjakan rencana-Nya yang sempurna. Amin
Pendahuluan
Apa yang firman Tuhan katakan tentang iman? Di dalam Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Mari kita berfokus pada kata assurance (jaminan), conviction (kepercayaan), sure (kepastian) dan certain (keyakinan). Apa yang diajarkan kata-kata ini? Singkatnya, hal ini berarti rasa percaya yang teguh. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Ada sebuah dasar … apakah itu? Tuhan ingin Anda tahu beberapa hal tentang-Nya dan percaya kepada-Nya seumur hidup kita. Sebagai anak-anak Allah, hidup kita ada di tangan-Nya. Masa depan dan harapan kita ada di dalam jaminan-Nya.
Abraham sebagai contohnya. Tuhan meminta Abraham untuk mengorbankan Ishak ketika dia masih berumur 12 tahun Kej 22:1-19. Dengan iman Abraham percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkannya ketika dia meminta kedua bujangnya untuk menunggu mereka karena mereka hendak pergi menyembah Tuhan. Ketika Ishak bertanya kepada Abraham dimana domba untuk kurban berada, Abraham menjawab Tuhan akan menyediakan! Kedua kalinya Abraham berbicara dengan iman. Dia tidak tahu bagaimana akhirnya tetapi jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia tahu Tuhan akan berbuat sesuatu. Inilah yang kita sebut sebagai iman kepada Tuhan! Contoh: Seorang anak tidak akan bertanya kepada ayahnya apa yang akan mereka makan selanjutnya karena dia tahu ayahnya mengasihinya dan memenuhi kebutuhannya tanpa diminta.
Hari ini kita akan belajar mengapa kita harus meningkatkan kesetiaan kita kepada Tuhan.
Pembahasan : ALASAN UNTUK SETIA
1) Tuhan adalah Allah yang setia
Bahkan ketika kita tidak setia, Tuhan tetap setia karena Dia tidak bisa menyangkal diri-Nya (2 Tim 2:13). Tuhan setia kepada janji-Nya. Itulah sebabnya di alkitab disebutkan bahwa janji Tuhan adalah ya dan amin! (2 Kor 1:20).
Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih, yang apa pun yang terjadi, ketika anak-Nya kembali kepada-Nya, Dia akan menerimanya kembali karena Dia adalah Allah yang setia. Di dalam perumpamaan anak yang terhilang, dengan jelas digambarkan bahwa bapa selalu mencari anaknya. Tuhan itu seperti ayah di dalam kisah anak yang terhilang tersebut. Kesetiaan-Nya tidak pernah berakhir. Dia setia kepada janji-Nya untuk Abraham. Dia setia kepada janji-Nya untuk Daud. Apa pun yang Tuhan janjikan, Dia akan melakukannya.
Jadi, ketika kita menghargai kesetiaan Tuhan, kita meresponinya di dalam iman juga. tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah (Ibr 11:6)
2) Mengembangkan kesetiaan memberi jaminan pada berkat dan juga Penghargaan dari Sorga
(Roma 5:1) – Dengan iman kita menerima kasih karunia, ada kuasa di dalam iman, ketika kita percaya kepada-Nya, kebangkitan-Nya mendatangi kita.
Ketika kita datang kepada Kristus yang adalah dasar dari iman kita, segala yang ada pada-Nya disalurkan kepada kita. Kita menerima hidup di dalam Kristus dan kemuliaan-Nya juga. Karena Daud setia kepada Tuhan, dia diberkati berlimpah-limpah. Dia adalah seorang raja yang sangat kaya. Di dalam Mazmur 23:6 Daud menulis, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Contoh berikutnya adalah Abraham. Dia adalah seorang hamba Tuhan yang setia dan dia diberkati berlimpah-limpah oleh Tuhan. Dia bahkan diberi seorang anak pada hari tuanya (100 tahun)!
Ketika kita setia kepada Tuhan, berkat-Nya akan mengikuti kita. Berbeda dengan dunia yang mengejar berkat, kita, anak-anak Tuhan mengejar sumber berkat yang adalah Tuhan sendiri. Di dalam kisah anak yang terhilang, pada saat anak itu memilih untuk tidak setia kepada ayahnya, dia mengalami penderitaan. Hanya ketika dia memutuskan kembali kepada ayahnya, dia mengalami pemulihan dan bisa menikmati berkatnya kembali.
3) Bersiap untuk menjadi pemimpin dan terlibat di dalam pelayanan
Kita dipanggil untuk melayani Tuhan oleh karena kasih karunia-Nya. Perhatikan hal ini bahwa Paulus sering menganggap dirinya sebagai hamba Kristus. Jika kita mengacu kepada New American Standard Bible, Paulus menganggap dirinya sebagai seorang hamba yang berarti hidupnya berada di bawah komando Yesus, Tuannya! (Rom 1:1, Flp 1:1)
Alkitab menyatakan bahwa siapa pun yang ingin melayani; hendaknya menjadi hamba yang setia, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan serta mampu melayani pekerjaan Kerajaan Allah.
Kita tidak bisa menjadi seorang pemimpin jika kita tidak setia pada panggilan kita. Yesus dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa Dia setia kepada panggilan Allah Bapa bagi-Nya. Dia tidak pernah mundur meskipun Dia tahu, Dia harus menanggung penderitaan di atas kayu salib bagi pelanggaran kita. Yesus dengan setia memperlengkapi murid-murid-Nya sehingga mereka menjadi pemimpin gereja mula-mula.
Jika Nehemia tidak setia kepada penggilan Tuhan baginya untuk membangun tembok Yerusalem, tidak ada apa pun yang akan terjadi. Karena Nehemia setia, tembok tersebut bisa segera selesai dalam 52 hari. Yosua adalah contoh berikutnya. Dia setia di dalam melayani pemimpinnya, Musa. Kemudian Tuhan memanggil Musa untuk memberkati Yosua sebagai pemimpin masa depan bangsa Israel untuk masuk ke dalam Tanah Perjanjian.
Ketika kita setia kepada panggilan Tuhan, Dia akan terus memakai kita untuk kemuliaan-Nya. Sama seperti banyak hamba-hamba-Nya yang setia: Gembala Senior Niko Njotorahardjo, Pastor Rick Warren, Penginjil Reinhard Bonnke, Penginjil Billy Graham dan sebagainya, mereka dipakai secara luar biasa oleh Tuhan bagi kemuliaan-Nya,
4) Kebenaran Allah datang melalui iman (Roma 3: 22)
Dikatakan:” kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.” Kita tidak bisa membuat diri kita benar, jadi hanya Tuhan yang bisa membenarkan kita, tetapi tanpa iman bagaimana Anda bisa menerimanya? Hal ini membutuhkan iman untuk menerimanya.
Sama seperti sebuah kipas angin, jika tidak terhubung dengan listrik, mesin kipas angin tidak akan bisa berfungsi! Sama halnya, jika kita tidak terhubung dengan Tuhan melalui iman kita, tidak akan ada yang terjadi di dalam kehidupan rohani kita. Kita bisa mengklaim kebenaran di dalam Kristus jika kita memiliki iman di dalam Kristus. Tanpa Yesus, kebenaran kita hanya akan menjadi kebenaran manusia.
Dilengkapi dengan Roma 1:17, “Orang benar akan hidup oleh iman,” Martin Luther menantang doktrin salah yang telah masuk ke dalam gereja. Dia percaya bahwa kebenaran datang dari Tuhan sendiri bukan dari yang lain.
Penutup
Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman. Pekerjaan baik kita tidak menyelamatkan kita. Hanya dengan iman di dalam Kristus, kita bisa mengalami-Nya. Karena Tuhan setia kepada kita, mari kita kerjakan keselamatan kita dengan setia kepada-Nya. Dengan kesetiaan kepada Kristus, kita akan menggenapi panggilan yang telah Dia persiapkan bagi kita dan kita akan mengalami setiap berkat yang telah Dia maksudkan untuk kita. Kiranya Tuhan dimuliakan ketika kita tetap setia kepada-Nya.
undefinedundefined
Membahas soal kesetiaan adalah suatu hal yang gampang2 susah. kesetiaan di sini yang dari kata dasar "setia" bermakna patuh, taat yang berkepanjangan. jadi kesetiaan bisa juga di samakan dengan keatuhan dan ketaatan kepada siapa kita setia. dalam konteks ini kita mengangkat soal kesetiaan umat kristen kepada Tuhan Yesus. namun dikeadaan sekarang ini lebih banyak orang yang percaya kepada Tuhan Yesus daripada orang yang Setia kepada Tuhan Yesus. kenapa saya berkata demikian? satu jawaban kita lihat dari realitas kehidupan kristen sekarang. banyak kristen yang tidak taat kepada peraturan yang ditentukan Allah kepada umat-Nya.
Dalam alkitab konteks kesetian di pakai salah satunya adalah dalam buah roh. di Galtia 5:22 mengatakan: "Tetapi buah roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, ....". Jika kita hidup dalam kedagingan maka kita tidak akan memiliki buah roh yang salah satu sifat dari buah roh adalah kesetiaan. bagaimana seseorang bisa berkata bahwa "aku setia kepada Tuhan namun aku hidup menurut kehendakku dan menurut kedaginganku." orang yang hidup dalam kedagingan akan hidup menurut kehendaknya. dalam galatia kita telah di ingatkan untuk kita dapat hidup dalam roh agar buah roh ada di dalam hidup kita yang menjadikan kita setia kepada Tuhan karena kita tidak hidup menurut kedagingan kita dan hawa nafsu kita. saat kita hidup menurut kehendak Tuhan maka kita akan taat kepada Tuhan dan melakukan semua perintahNya dalam hidup kita maka saya dapat katakan bahwa kesetiaan ada di dalam hidup orang tersebut.
Jadi saudaraku marilah kita berpegang kepada perintah Tuhan karena Tuhan akan menunjukan kasih setiaNya kepada kita. dalam Ulangan 5:10 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu- ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah- perintah-Ku. Jadi adakah kasih setia Tuhan ada pada diri kita? itu kembali kepada diri kita adakah kita mengasihi Tuhan dan berpegang kepada perintah-Nya yang menunjukan kesetiaan kita kepada Tuhan??
Kini saatnya untuk kita kembali kepada Dia dalam jalan yang benar. marilah kita buang segala keegoisan kita dan keinginan daging kita tapi kita hidup dalam roh dalam mengasihi Allah kita.
tiada sesuatu yang berarti dalam dunia ini selain kasih setia Allah yang ada di dalam hidup kita.
Kesetiaan Kristus & Kesetiaan Imam
Oleh : RD. Dionysius Adi Tejo Saputro
Sebuah film berjudul "3 Needles" garapan sutradara Thom Fitzgerald mengisahkan tiga suster yang sedang bertugas di sebuah perkampungan wilayah Afrika Selatan. Dalam film itu dikisahkan bagaimana kondisi perkampungan tersebut yang sangat memprihatinkan yang sarat dengan berbagai permasalahan, seperti prostitusi dan narkoba yang disertai dengan pertumbuhan penyakit AIDS yang tinggi, buruh perkebunan dengan upah sangat minim, perekonomian masyarakat yang sangat rendah, moralitas yang rendah, dan sebagainya. Situasi tersebut sungguh mencekam ketiga suster tersebut. Mereka semakin lama semakin tak kuasa untuk berkarya di tempat itu. Mereka tak mungkin selamanya mengandalkan kucuran dari para donatur atau bantuan dari biara pusat. Hingga akhirnya terjadi satu peristiwa, kala itu salah seorang suster muda memberanikan diri menghadap sang penguasa perkebunan untuk menaikkan upah para pekerja, dan menghentikan aktivitas prostitusi maupun perdagangan narkoba. Setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya sang penguasa perkebunan itu mengabulkan permintaan suster muda itu, namun dengan satu syarat. Ia bersedia mengabulkan permintaan itu, asalkan saat itu suster muda itu bersedia melayani hasrat seksualnya. Bagi suster itu, syarat tersebut sungguh berat dan dilematis. Memilih mempertahankan kesucian selibat atau berkorban demi masyarakat yang tertindas? Ternyata suster muda itu lebih mengorbankan selibatnya demi kebebasan masyarakat tersebut, meski rintihan kepedihan hati tak terelakkan.
Penggalan film tersebut mengundang satu pertanyaan reflektif, apakah suster muda itu tetap "setia"? Refleksi pendek tentang kesetiaan imam ini tentu bukan sekedar melihat sisi kesetiaan mengenai selibat semata dalam perkara seksualitas semata. Akan tetapi, tulisan pendek ini hendak mengolah kembali arti kesetiaan imam yang didasarkan pada kesetiaan Kristus sendiri, terlebih dalam rangka memaknai Tahun Imam saat ini. Makna kesetiaan haruslah dipandang dan dihayati secara lebih luas. Sebab, kesetiaan merupakan salah kunci dalam memikul tugas dan tanggung jawab sebagai imam. Pertanyaan reflektif lebih lanjut lagi, apakah sampai saat ini nilai kesetiaan tetap bertahan dalam diri para imam? Situasi jaman yang semakin rumit sering menjadi tantangan bagi kesetiaan seorang imam. Semoga melalui tulisan kecil ini menjadi refleksi terhadap nilai kesetiaan sejati dalam diri para imam.
Yesus Kristus Sang Imam Sejati
Poros kehidupan seorang imam tak bisa dilepaskan dari pondasinya, yaitu Yesus Kristus sendiri. Bahkan lebih dari itu, berkat martabat sakramen tahbisannya, seorang imam adalah "alter christi"; serentak pula Kristus hadir merasuk dalam dirinya (in persona christi). Maka, seluruh kehidupan seorang imam sudah seharusnya mendasarkan pada figur Yesus Kristus sendiri sebagai Sang Imam Sejati. Lebih dari itu pula, dalam diri Yesus Kristus merupakan puncak kegenapan tugas perutusan-Nya di dunia (bdk Kol 2:9).
Yesus sebagai Sang Imam Sejati tentu tak terlepas dari rangkaian ekonomi keselamatan Allah terhadap manusia. Yesus menerima tugas perutusan keselamatan bagi semua orang dengan kerelaan dan sepenuh hati serta tanggung jawab (bdk. Mrk 10:45). Kerelaan hati dan tanggung jawab melaksanakan tugas berat itu tak mungkin dilaksanakan sampai tuntas bila Yesus tak memiliki kesetiaan pada Bapa-Nya. Hal tersebut terbukti pada saat Ia mengalami penderitaan hebat di kayu salib dan berujung pada kematian-Nya. Salib dan kematiaan-Nya memang menjadi kesimpulan dan bukti nyata bahwa hanya dengan kesetiaanlah, Yesus mampu melaksanakan tugas perutusan-Nya di dunia ini.
Namun demikian, kesetiaan Yesus bukan sekedar dilihat dari "the end of tragic drama". Kesetiaan Yesus harus dilihat dari seluruh proses karya dan tindakan-Nya dalam mewartakan dan mewujudkan karya keselamatan Allah. Kesetiaan dalam diri Yesus pada saat melakukan berbagai karya, sungguh menjadi totalitas kekuatan yang merasuk dalam setiap tindakan-Nya. Karya dan tindakan-Nya sungguh terasa berisi, berbobot, bukan asal-asalan. Orang yang mendengar-Nya menjadi percaya dan sembuh! Nilai yang terkandung dalam diri Yesus juga secara jelas terucap dari sabda-Nya…"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam dalam perkara-perkara besar" (Luk 16:10; bdk. Mat 25:21,23). Sabda tersebut semakin memperjelas nilai kesetiaan dalam diri Yesus. Lebih jelas lagi, bahwa kesetiaan merupakan "identitas" bahkan lebih tepatnya lagi "jati diri" yang mengungkapkan siapa dan bagaimana Yesus terlebih dalam karya-Nya. Pernyataan Yesus yang menyebutkan…"Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (Yoh 8:29; bdk. Yoh 5:19-47). Kesaksian Yesus mengenai siapa diri-Nya tersebut lebih mempertegas kembali bahwa kekuatan kesetiaan-Nya dikarenakan Allah yang sungguh hadir sebagai Bapa-Nya.
Nilai dan kekuatan kesetiaan dalam diri Yesus tersebut kiranya dapat dilihat dalam beberapa sisi. Pertama, kesetiaan hanya dapat dilakukan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab bila seseorang sungguh mengetahui dan memahami tugas yang dipikulnya. Yesus pun sungguh mengenal siapa Bapa-Nya. Ia begitu mengenal Bapa-Nya karena Yesus berasal dari-Nya. Maka segala sesuatu yang nampak dalam karya-Nya sungguh merupakan karya Bapa-Nya, sebab Yesus selalu menaruh diri-Nya untuk tinggal dalam Bapa, dan Bapa berkenan dalam diri Yesus. Situasi yang begitu dekat dan intim itu membuat Yesus sungguh mengerti bagaimana Ia harus melaksanakan tugas-tugas-Nya. Kedua, nilai kesetiaan yang dimiliki Yesus menuntut sikap berpasrah dan berkorban dengan segenap hati. Yesus rela menderita dan wafat karena Ia setia kepada Bapa-Nya dan bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan manusia.
Ketiga, nilai kesetiaan Yesus membuat-Nya tidak ragu-ragu dalam bertindak, bahkan Ia terkadang bersikap kontradiktif terhadap situasi di sekitarnya. Kemantapan sikap Yesus tersebut juga menunjukkan bahwa segala yang dilakukan-Nya adalah berasal dari Bapa. Dengan demikian, Yesus mampu menghadapi situasi dunia yang masih jauh dari harapan Bapa. Dalam hal ini pula, Yesus merupakan sosok yang tanggap jaman; sosok yang mampu membawa manusia pada perubahan yang benar. Yesus berani menyatakan sebuah keselamatan yang sejati sampai titik darah-Nya. Oleh karena itu, Yesus berani dan rela pula menjadi setara dengan manusia supaya mereka menjadi semakin dekat Bapa-Nya. Yesus pun tak segan berhadapan dengan aturan manusia yang seringkali justru membelenggu diri mereka, dan malah menjauh dari Bapa.
Bagi seorang imam, kesetiaan Yesus yang demikian patut menjadi inspirasi terus-menerus dalam dirinya. Karena hanya model kesetiaan Dialah, maka seorang imam mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam menghantarkan umat menuju pada keselamatan.
Hakekat Imam: Tugas Perutusan Kristus
Dalam dokumen KV II dinyatakan sebagai berikut:
Tuhan Yesus, "yang oleh Bapa dikuduskan dan diutus ke dunia"(Yoh 10:36), mengikutsertakan seluruh Tubuh mistik-Nya dalam pengurapan Roh yang telah diterima-Nya sendiri. Sebab dalam Dia semua orang beriman menjadi Imamat kudus dan rajawi, mempersembahkan korban-korban rohani kepada Allah melalui Yesus Kristus, dan mewartakan kekuatan Dia, yang memanggil mereka dari kegelapan ke dalam cahaya-Nya yang mengagumkan…..
Tetapi supaya umat beriman makin berpadu menjadi satu Tubuh, "di dalamnya tidak semua anggota mempunyai tugas yang sama"(Rm12:4), Tuhan itu juga mengangkat di tengah mereka beberapa anggota menjadi pelayan, yang dalam persekutuan umat beriman mempunyai kuasa Tahbisan suci untuk mempersembahkan Korban dan mengampuni dosa-dosa, dan yang demi nama Kristus secara resmi menunaikan tugas imamat bagi orang-orang…. (PO no.2).
Pada dasarnya, setiap orang yang masuk dalam persekutuan Tubuh Mistik Kristus memiliki jabatan raja, nabi, dan imamat dalam artian umum (KHK § 204,1; PO 2; Rm 1:1). Namun agar tata keselamatan di dunia dalam persekutuan itu semakin terwujud ada kelompok orang yang dikhususkan dalam tugas pengudusan (KHK § 207). Mereka inilah para imam atau kelompok klerikus yang hidupnya dikhususkan bagi tugas pelayanan yang menyangkut kehidupan beriman umat. Kekhususan tersebut merupakan ciri khas bagi para imam yang membedakannya dari bentuk panggilan umum. Kekhususan itu didasarkan pada nasehat Injili dengan menekankan hidup selibat, kemiskinan, dan ketaatan. Ketiga hal tersebut merupakan corak khusus yang harus dijalankan oleh mereka. Meski ketiga nasehat Injili itu menjadi corak khusus bagi para klerus mapun lembaga hidup bakti, bukan berarti umat beriman awam tidak melaksanakan. Ketiga hal tersebut juga menjadi semangat hidup kristiani bagi seluruh umat beriman Allah.
Kehidupan para imam memang tak terlepaskan dari tiga nasehat Injili yang merupakan warisan hidup Yesus sendiri. Seorang pelayan akan sungguh-sungguh total melaksanakan tugasnya bila ia menyadari tanggung jawabnya. Begitupun bagi seorang imam, dia sungguh akan melaksanakan tugasnya bila ia pun menjalankan dengan sepenuh jiwa dan raganya. Maka, selibat, kemiskinan, dan ketaatan bukan mengandalkan kekuatan manusia tetapi merupakan rahmat Allah yang menjadi kekuatan seorang imam dalam menjalankan tugasnya. Ketiga nasihat Injili seharusnya bukan lagi menjadi kewajiban, tetapi semata-mata karena panggilan Allah. Dengan demikian, bila selibat, kemiskinan, dan ketaatan merupakan rahmat Allah, maka harus disyukuri sebagai "cara hidup" imam tersebut.
Bila ketiga nasihat Injili dipahami sebagai rahmat yang menguatkan, maka seorang imam juga harus berusaha agar hidupnya senantiasa dalam rahmat itu. Kuncinya tak lain adalah semakin mengarahkan hidupnya pada keintiman dan masuk dalam persatuan dengan Yesus yang adalah Allah sendiri. Maka sikap setia sungguh menjadi dasar untuk terus-menerus bersedia tinggal dalam Allah sendiri. Bagaimana mungkin seorang imam mampu menjalankan tugasnya bila ia tidak mau dekat dengan Allah yang memanggil dan mengutusnya? Bagaimana mungkin seorang imam sungguh memahami, menghayati apa yang menjadi tugasnya bila ia tidak setia terhadap Allah? Umat yang digembalakan oleh imam adalah milik Allah. Imam adalah pekerja yang dipilih oleh-Nya untuk melaksanakan tugas pelayanan bagi mereka. Jadi, seorang pekerja harus dapat mempertanggungjawabkan atas apa yang menjadi perintah tuannya.
Jikalau demikian, kesetiaan bukan sekedar kewajiban karena ia menjadi imam. Sekali lagi, kesetiaan merupakan nilai yang seharusnya merasuk dalam pola hidup seorang imam ketika ia menerima rahmat panggilan khusus itu dan direalisasikan dalam hidup dan karyanya. Perkaranya sekarang adalah bagaimana kesetiaan itu sungguh berbunyi dalam hidup dan karya seorang imam, dan terlebih terhadap umat yang digembalakannya.
Cuplikan kisah suster muda dalam film "3 Needles" sedikit menjadi inspirasi dalam menggemakan kesetiaan dalam diri para klerus, atau siapa saja yang menjalankan ketiga nasihat Injili. Misalnya dalam perkara selibat, seorang imam bukan hanya dihadapkan melulu pada sisi seksualitas semata. Akan tetapi, rahmat selibat seharusnya menjadi kekuatan dalam dirinya untuk sepenuhnya memancarkan cinta kasih Allah secara bebas dan utuh kepada umat yang dilayaninya. Maka selibat hendaknya tidak menjadi batu sandungan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Bila dibandingkan dengan peristiwa yang dialami suster muda dalam film "3 Needles" memang menjadi kontras dalam memahami selibat pada tingkatan seksual. Suster muda tersebut rela melepaskan "selibatnya" (keperawanannya) demi mereka yang menderita. Ia melepaskan harga dirinya! Hal penting yang hendak digarisbawahi dari kisah itu adalah selibat sering hanya menjadi tembok pemisah yang kaku dan tak mau mengerti situasi di luarnya. Bila demikian, bukankah selibat akhirnya tak bergema dalam aktivitas pelayanan sorang pelaku hidup selibat?
Hal-hal tersebut di atas juga berlaku dalam dua pola hidup yang lain, yaitu kemiskinan dan ketaatan. Kedua pola hidup itu juga seharusnya semakin menggema dalam karya dan hidup seorang imam. Akan tetapi, situasi jaman semakin menantang. Lagi-lagi, kedua keutamaan tersebut kembali diuji, apakah semakin memperdalam hidup panggilan seorang imam, atau justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, dalam memasuki dan merayakan Tahun Imam, baiklah kita semua berefleksi agar kesetiaan dalam rahmat panggilan senantiasa diolah dari hari ke hari. Tentu saja para imam tak dapat berjalan sendiri tanpa keterlibatan umat yang digembalakannya. Semangat hubungan kerjasama Triniter hendaknya juga dibumikan dalam kerjasama yang mutual di antara para imam dan umat. Hal tersebut dapat diwujudkan dalam usaha membangun nilai-nilai praksis kesetiaan baik dari pihak para imam maupun umat seturut panggilan mereka masing-masing. Santo Yohanes Maria Vianey, doakanlah kami!
Kesetiaan Kristiani
Nats Alkitab : Ibrani 3:1-2, Daniel 6:5, Wahyu 2:10
Tujuan : Menjelaskan kepada jemaat apa arti kesetiaan itu dan bagaimana melakukannya sehingga jemaat mempunyai sikap setia yang benar dan mau menjalankannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Penulis : Esther Julliet Gerung
Pendahuluan
Saudara-saudara setiap kali kita mengikuti ibadah Pemberkatan Nikah selalu ada kredo kesetiaan yang kurang lebih berbunyi demikian
Saya Herman Darmawan bersedia dengan tulus hati menerima Nancy Maria sebagai isteri saya dan saya bersedia menjadi suami baik dalam suka maupun duka sampai maut memisahkan kita.
Demikian pula kalimat yang sama akan diucapkan oleh calon isteri kepada suaminya.
Saudara-saudara hal ini dipakai oleh Rasul Paulus untuk menggambarkan kesetiaan Kristiani seperti dalam Efesus 5:32
Rahasia ini besar tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat
Jadi apakah yang dimaksud dengan kesetiaan Kristiani itu ?
Kesetiaan Kristiani adalah hubungan jemaat dengan Tuhannya dimana jemaat selalu terarah kepada Tuhan, bahkan dalam masa tersulit sampai Tuhan memanggil jemaat pulang ke rumahBapa.
Dari pernyataan itu kita mengetahui ada 3 unsur kesetiaan Kristiani
I. Kesetiaan Kristiani adalah kesetiaan jemaat yang terus tertuju kepada Tuhan penebus ( Ibrani 3:1,2)
Saudara-saudara surat Ibrani adalah sebuah surat yang ditulis untuk diberikan kepada orang-orang Kristen yaitu orang-orang Yahudi yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Hal ini dapat diketahui melalui isi surat yang banyak memberitakan mengenai hal-hal yang lazim dalam PL dan diperuntukkan bagi orang-orang yang terbiasa dengan tema-tema PL.
Saudara-saudara dalam surat Ibrani pasal 3 ini penulis surat ingin menyampaikan kepada orang-orang Kristen Yahudi dan juga kepada kita pada masa kini mengenai seorang tokoh yang sangat terkenal dalam sejarah bangsa Israel, yaitu : Musa. Musa sangat terkenal dalam kitab Pentateuch seorang utusan Allah untuk membawa orang Israel keluar dari tanah Mesir dan Alkitab juga mengatakan kepada kita bahwa Musa adalah seorang yang setia dalam segenap Rumah Allah.Selanjutnya Harun kakak Musa adalah seorang Imam Besar dalam PL. Akan tetapi keduanya pernah mengalami kesulitan oleh karena itu merekapun membutuhkan korban penebusan dosa, tanpa kurban penebusan dosa, tak mungkin mereka dapat melaksanakan tugas mereka yaitu mempersembahkan doa syafaat untuk umat Allah.
Namun baik Musa maupun Harun mereka berada dalam status yang tidak lebih tinggi daripada Tuhan Yesus. Surat Ibrani pasal 3 memberitahukan kepada kita bahwa Yesus bukan hanya sebagai seorang utusan seperti Musa dan bukan hanya sebagai Imam besar seperti Harun. Tetapi Yesus adalah kedua-duanya. Ia melaksanakan pekerjaan rangkap yaitu sebagai utusan yang melaksanakan amanat Bapa di Surga dan Yesus juga adalah Imam Besar yang penuh belas kasihan dan setia ( Ibrani 2:17)..
Saudara-saudara sebagai Imam Besar Yesus telah mempersembahkan diriNya menjadi korban pendamaian untuk manusia supaya orang-orang yang percaya kepadanya menjadi kudus di dalam Dia dan melalui Yesus dapat masuk ke ruang maha kudus. Menjadi anak-anak Allah dan berdiam dalam rumah Allah.
Saudara-saudara, Orang-orang Kudus adalah orang-orang yang memperoleh panggilan surgawi yaitu panggilan dalam dunia rohani.Dan tujuan dari panggilan surgawi ini adalah hendak membuat orang yang dipanggil menjadi orang kudus dan dapat mewarisi kekayaan yang berkelimpahan dari Allah Bapa.
Saudara. Untuk dapat hidup dalam panggilan kudus tidaklah mudah. Kita membutuhkan perjuangan untuk dapat setia menjalani hidup dalam panggilan surgawi ini. Dan Allah mengetahui bahwa tidaklah mudah bagi kita untuk menjalani hidup dalam panggilan kudusNya. Itu sebabnya Yesus telah datang untuk memberi kita teladan tentang bagaimana kita harus hidup dalam panggilan kudus, yaitu hidup setia kepada Allah.
Dan untuk dapat hidup setia kita harus memandang kepada Yesus sebagai teladan yang sempurna dalam kesetiaan.
Saudara-saudara. Kata “memandang” dalam surat Ibrani 3 ini mempunyai arti berpikir atau memikirkan. Kata ini menunjukkan dengan hati menyelidiki, memikirkan dengan teliti sampai jelas memperoleh pengertian dan pengenalan yang sempurna.
Hal ini berarti kita harus benar-benar memikirkan Yesus mengerti kesetiaan Yesus dengan sungguh-sungguh meresap dalam hati dan pikiran mengerti dengan teliti sehingga kita dapat menyelami kesejatian kesetiaanNya dan dapat menjadi dasar yang kokoh bagi iman kesetiaan kita kepada Allah.
Saudara-saudara. Dalam bahasa asli Alkitab, iman dan setia adalah kata yang sama. Ini dapat dimengerti sebab dari imanlah, setia itu lahir. Jika kita beriman kepada Kristus, kita menjadi orang yang dapat dipercaya. Jika kita bersandar kepada Kristus kita akan menjadi orang yang dapat diandalkan. Percaya dengan Kristus, kita akan menjadi orang yang setia – setia bahkan sampai mati.
Saudara-saudara. Dengan memandang Yesus seperti ini, kita dapat tetap setia kepada Allah walaupun kita berada dalam penderitaan ketidaklancaran bahkan ancaman kematian. Di luar Kristus, kita tidak sanggup untuk menjalani hidup dalam kesetiaan Kristiani kita.
II Jemaat tetap setia kepada Tuhan dalam keadaan krisis ( Daniel 6:5 )
Saudara-saudara. Kesetiaan Kristiani adalah kesetiaan yang teruji dalam keadaan krisis. Saudara-saudara Tuhan ingin setiap orang Kristen mempunyai suatu tekad untuk setia yang diwujudkan dalam tindakan yang nyata kepadaNya. Tuhan juga ingin bahwa kesetiaan yang kita ikrarkan dihadapanNya tidak hanya terbukti pada saat segala sesuatu
berjalan lancar dan aman.Tetapi kesetiaan yang Tuhan inginkan dari kita adalah kesetiaan yang teruji sekalipun harus melalui masa yang sulit – masa krisis.
Saudara-saudara.Alkitab memberi kita banyak contoh mengenai orang-orang yang hidupnya setia kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengenal Allah yang mereka percayai dan mengenalnya dengan jelas.
Dan salah satu contohnya adalah Daniel. Saudara.Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Daniel adalah orang yang setia kepada Allah yang benar.
Meskipun ia adalah tawanan di negeri Babel, namun kepadanya Raja Darius mempercayakan suatu jabatan yang tinggi dan Daniel melakukan tugas yang dipercayakan raja kepadanya dengan setia.
Saudara. Dalam kedudukan Daniel yang sangat tinggi pada saat itu menjadi salah satu kepercayaan raja tentu merupakan hal yang mudah baginya untuk menjalani kesetiaanya kepada Allahnya. Tetapi keadaan aman dan tenang tidak selalu mewarnai kehidupan Daniel. Tibalah saat yang tidak terduga datang, yaitu saat dimana kesetiaan dan kesungguhannya kepada Allah harus melalui suatu ujian.
Saudara. Daniel dituduh melanggar perintah Raja Darius, karena ia tidak berbakti dan menyembah raja, melainkan seperti biasanya Daniel tetap beribadah kepada Allah yang benar.
Saudara, Daniel tahu bahwa kesetiaannya kepada Allah mendatangkan suatu konsekwensi yang tidak mudah. Ia dituntut setia kepada Allah bukan hanya dalam keadaan yang aman dan lancar tetapi dalam keadaan krisis yang berat yaitu ia diperhadapkan antara setia kepada Allah atau setia kepada perintah raja yang bertentangan dengan perintah Allan.
Saudara. Bukankah Daniel dapat menghindari hukuman raja dengan tidak lagi berdoa selama 30 hari ataupun melaksanakannmya secara tersembunyi sehingga niat jahat dari orang-orang tersebut akan gagal dan Daniel menang ? Dan bukankah Tuhan mengerti akan dilema ini bukan ?
Atau.Bukankah lebih bijaksana berhenti berdoa untuk sebentar saja, supaya ia dapat tetap hidup dan sekali lagi berdoa dan menjadi saksi yang baik bagi Tuhan setelah waktu itu berlalu ? Atau bukankah Daniel boleh tetap berdoa kepada Allah. Tetapi jangan di tempat ia biasanya berdoa. Melainkan lebih baik di tempat dimana ia tidak dapat dilihat.
Tetapi saudara. Boleh jadi Daniel yang setia kepada Allah selama 70 tahun lebih sama sekali tidak mempunyai pemikiran yang demikian. Atau ia menolaknya dengan segera. Tidak mungkin kalau sekarang berubah setia kepada Allah.
Saudara. Daniel mengalami suatu masa krisis dalam hidupnya. Sekalipun banyak cara dapat ia lakukan untuk menghindari hukuman mati dan merasionalkan keadaan. Cara berpikir, ataupun sikapnya demi supaya ia terlepas dari ancaman yang berbahaya.
Tetapi ayat 11 membuktikan kepada kita bahwa ia tidak melakukan semua yang bisa dilakukannya untuk menolak setia kepada Allah. Daniel tetap setia karena itu”demi didengar Daniel, … pergilah ia ke rumahNya dan berdoa seperti biasanya”, sewaktu ia mendengar penetapan itu . langsung ia pulang. kamar atasnya yang merupakan tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem tiga kali sehari ia berlutut. Dan berdoa serta memuji Allahnya seperti yang
biasa dilakukannya.
Saudara .Sungguh indah dan mengagumkan kesetiaan Daniel kepada Allah. Daniel adalah seorang yang mengenal Allahnya dengan baik dan ia berkomitmen untuk setia kepada Allah yang benar itu. Daniel adalah lukisan yang jelas dari seorang yang telah menang dalam kehidupannya.
Saudara. Kesetiaan Daniel juga membuktikan seorang yang dengan sungguh-sungguh bersaksi bagi Allah iaa seorang yang dapat diandalkan oleh Allah. Ia seorang yang dapat dipercaya oleh Allah. Hal ini terbukti dalam Daniel 6:27 dimana pada akhirnya raja mengeluarkan pengakuan dan perintah bahwa,”Dialah Allah yang hidup , yang kekal untuk selama-lamanya : kepada Allah seperti itulah semua orang harus takut dan gentar.”Pengakuan ini karena kesaksian Daniel.
Aplikasi :
Saudara. Mungkin di dalam hidup saudara sebagai orang-orang Kristen, saudara mengalami banyak kesulitan, yaitu kesulitan yang bukan disebabkan oleh karena kesalahan saudara. Mungkin saudara mengalami kesulitan karena iman saudara kepada Tuhan Yesus.Saudara mengalami penganiayaan, diperlakukan tidak adil, ditolak oleh manusia, mengalami penjarahan dan sebagainya. Dalam hal inipun Tuhan tetap menginginkan kita setia kepadaNya. Tuhan ingin kita menjadi orang-orang yang dapat dipercaya dan diandalkan olehNya dalam krisis yang kita alami.
III. Jemaat tetap setia kepada Tuhan sampai mati ( Why 2:10)
Saudara, Jemaat Smirna adalah jemaat yang dipuji oleh Tuhan karena meskipun jemaat ini mengalami penderitaan, baik itu kemiskinan maupun tekanan dari penguasa serta sinagoge setempat, tetapi jemaat Smirna adalah jemaat yang tidak kompromi. Jemaat Smirna dianiaya,dikucilkan dan difitnah oleh orang-orang Yahudi yang mengaku bahwa pada mereka ada hukum Allah yang sempurna, tetapi yang juga menghasut pemerintah Romawi untuk menganiaya orang-orang Kristen yang tidak mau menyembah patung kaisar Tiberius.
Itulah sebabnya kepada mereka diserukan supaya mereka setia sampai mati yaitu dalam hal mereka mengorbankan nyawa mereka dan menjadi martir bagi Kristus.
Saudara-saudara. Mungkin kita bertanya bagaimana supaya iman kita kepada Dia bertumbuh pada saat segalanya baik, atau badai datang, kita tetap menaruh seluruh kepercayaan dan keyakinan kita kepada Dia ? Ingatlah bahwa Dia patut kita percayai sepenuhnya karena sifatnya dan apa yang diperbuat olehNya. Inilah yang diberitahukan oleh surat ini kepada mereka yang saling menderita.
Aplikasi :
Saudara-saudara, Kesetiaan adalah suatu sikap atau tindakan yang terus menerus kita usahakan untuk tetap atau tidak bergeser dari komitmen yang telah kita ikrarkan untuk setia kepada seseorang meski apapun halangan atau rintangan yang sedang kita hadapi dan yang akan kita hadapi . Kesetiaan ini yang Tuhan inginkan dari setiap anak-anaknya, untuk dilakukan bukan hanya pada masa krisis yang melanda kita tetapi juga pada saat kematian
atau maut diperhadapkan kepada kita.
Saudara kita adalah manusia yang cepat berubah-ubah baik dalam sikap , kata-kata dan banyak aspek dalam hidup kita lalu bagaimanakah kita dapat setia sampai mati kepada Allah ?
Saudara , Tuhan tahu dengan jelas siapa kita dan bagaimana keadaan kita. Tetapi Tuhan menghendaki kita setia kepadaNya sampai akhir hidup kita. Dan hal ini dapat kita lakukan apabila kita terus bersandar kepada Tuhan Yesus. Rasul dan Imam Besar kita yang setia. Kita harus hidup bergantung pada Tuhan barulah kita dapat setia kepadaNya sampai akhir hidup kita.Alkitab mengatakan pandanglah Yesus perhatikanlah Yesus, pikirkanlah Yesus yang telah setia kepada Bapa dan yang sekaligus telah memberi kita teladan untuk tetap setia dengan setia kepadaNya sampai mati. Barulah kita dapat disebut sebagai hamba yang baik dan setia oleh Tuhan kita .
Saudara .Maukah saudara mengusahakan untuk menjadi orang yang setia di dalam seluruh hidup saudara kepada Tuhan ?
Mengenal Kesetiaan Allah
Ditulis oleh Fransiska Seanny pada hari Kamis, 7 April 2011
Kesetiaan merupakan salah satu atribut Allah. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Allah itu setia. Berikut ini adalah dua di antaranya:
Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan. (Ulangan 7:9)
Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. (1 Korintus 1:9)
Selain itu, Alkitab juga menyatakan bahwa kesetiaan Allah itu sangat besar. Kesetiaan-Nya tak pernah berakhir. Kesetiaan-Nya juga tak bergantung pada kesetiaan manusia.
Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. (Mazmur 36:6)
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23)
jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. (2 Timotius 2:13)
Apakah yang dimaksud dengan “setia”? Setia berarti dapat dipercaya. Allah itu setia. Artinya, Dia adalah Allah yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Dia senantiasa memegang dan menepati janji-Nya. Setiap firman yang diucapkan-Nya pasti digenapi. Karena itu, kita tak perlu ragu atau kuatir akan penggenapan janji Allah dalam hidup kita. Kita dapat dengan tenang bersandar kepada-Nya dan mempercayai kesetiaan-Nya yang tak pernah berakhir.
Kesetiaan Allah itu dinyatakan dengan berbagai cara, antara lain:
Pertama, kesetiaan Allah dinyatakan dengan memelihara janji-Nya. Dia tak pernah mengingkari janji-Nya dan selalu menepati setiap perkataan yang diucapkan-Nya. Ulangan 7:9 yang dikutip di atas dengan jelas menyatakan kebenaran ini.
Kedua, kesetiaan Allah dinyatakan dengan menjaga dan memelihara kita dari segala yang jahat. Dia tak akan membiarkan kita dicobai melebihi kekuatan kita. Sebaliknya, Dia akan senantiasa menyertai kita dan memberikan pertolongan kepada kita saat kita mengalami pencobaan atau kesusahan.
Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat. (2 Tesalonika 3:3)
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. (1 Korintus 10:13)
Ketiga, kesetiaan Allah dinyatakan dengan menyelamatkan umat-Nya dari kebinasaan. Dalam Maszmur 98:3 dikatakan:
Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.
Keempat, kesetiaan Allah dinyatakan dengan mengampuni dan menyucikan kita dari segala dosa dan kejahatan. Dia juga menguduskan serta memelihara hidup kita agar hidup kita tak bercacat pada hari kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali.
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9)
Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya. (1 Tesalonika 5:23-24)
Demikianlah, kesetiaan Allah nyata dalam segala hal yang dikerjakan-Nya. Bila kita sungguh-sungguh mengenal dan menyadari kesetiaan Allah, tentu kita akan dapat menjalani hidup kita dengan tenang. Kesetiaan Allah akan senantiasa menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita saat pencobaan dan kesusahan datang. Kita dapat bersandar dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya, karena kita tahu bahwa Dia tak mungkin mencelakakan atau berlaku curang kepada kita.
Akhirnya, marilah kita membalas kesetiaan Allah itu dengan senantiasa berlaku setia di hadapan-Nya, setia dalam iman, setia dalam ketaatan, setia dalam kasih, dan setia dalam pengharapan kepada-Nya.