Selasa, 08 November 2011

Jamita Robinson Tumanggor

Tafsiran/Catatan -- Catatan Rentang Ayat

SH: Luk 11:1-13 - Yang terutama dalam hidup Kristen. Hal yang utama dan yang (Rabu, 22 Maret 2000)

Yang terutama dalam hidup Kristen. Hal yang utama dan yang


pertama dalam kehidupan Kristen adalah memberikan Allah kesempatan untuk berbicara kepada kita. Hal yang utama dan yang kedua adalah Kristen harus berbicara kepada-Nya. Kita harus berdoa, karena tujuan terpenting dalam hidup kita tidak dapat dicapai tanpa doa. Apa saja yang terpenting dan yang paling perlu dalam hidup kita? Seperti sebuah perjalanan panjang, kita senantiasa berjalan ke depan. Apakah tujuan hidup kita? Apa yang seharusnya menjadi ambisi utama kita?

Dalam Doa Bapa Kami kita menemukan jawabannya, yaitu bahwa kepentingan Allah harus diutamakan (ayat 2). Kita berdoa agar nama- Nya dikuduskan, yaitu dikhususkan sebagai yang paling suci, paling bernilai, dan paling mulia. Nilai kehidupan manusia tidak akan dihargai secara pantas kecuali jika manusia memandang Nama- Nya sebagai yang paling berharga dan merupakan sumber dari seluruh nilai yang benar. Kepentingan pribadi merupakan hal utama yang kedua yang dipintakan dalam doa yaitu dengan urutan kebutuhan fisik, moralitas dan rohani (ayat 3-4). Yesus tidak menyangkal bahwa kebutuhan fisik merupakan kebutuhan dasar manusia. Setelah kebutuhan fisik, kita perlu pengampunan untuk masa lalu kita dan terlepas dari pencobaan di masa yang akan datang. Kita perlu pengampunan dan bimbingan-Nya setiap hari seperti kita perlu berkat jasmani-Nya tiap hari juga.

Inilah prioritas yang benar dalam doa kita. Namun Yesus tidak berhenti sampai di sini, Ia menambahkan permintaan lain dalam doa yang akan menyatakan secara lebih nyata lagi apa prioritas utama kita dan perhitungan kita tentang apa yang paling penting dalam hidup ini, yaitu Roh Kudus. Yesus memahami bahwa murid- murid-Nya selama hidup di dunia ini akan mengalami segala macam pencobaan, masalah, dan marabahaya, yang selain membahayakan hidupnya juga dapat menggoyahkan imannya. Itulah sebabnya Ia mengajarkan bahwa Allah Bapa sudah siap memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya yaitu Roh Kudus jika mereka memintanya dengan sungguh. Meminta karunia Roh Kudus bukanlah suatu peristiwa yang terjadi sekali dalam hidup.

Renungkan: Dalam kehidupan di negara kita sekarang ini yang segala sesuatunya sangat tidak pasti, di mana Kekristenan terus- menerus di bawah ancaman, hal apakah yang senantiasa Anda minta kepada Allah?

SH: Luk 11:5-13 - Terkabulnya doa (Minggu, 4 Februari 2007)

Terkabulnya doa


Metode menghafal yang dipakai dalam proses belajar mengajar memiliki kelemahan tersendiri, yakni orang tidak diajar untuk memahami logika berpikir dan juga tidak dilatih kreatif dalam berpikir. Begitu pula dengan doa, bila hanya diucapkan sebagai hafalan tanpa memahami maksud atau isi doa tersebut.

Pada nas ini Tuhan Yesus menjelaskan fungsi doa dan mengapa Ia menghendaki pengikut-Nya berdoa dengan menyebut Bapa. Tuhan Yesus mengumpamakan penyampaian doa seperti orang yang meminta roti kepada sahabatnya waktu larut malam, saat sahabat serta seisi rumahnya sudah tidur (5-8). Permintaan itu akan dikabulkan karena sahabatnya tidak mau diganggu lebih lama. Inilah yang Yesus ingin ajarkan: jika seorang sahabat saja mau memberikan apa yang diminta temannya, karena permintaan itu mengganggunya, apalagi Bapa di surga. Ia pasti akan menjawab doa para murid Yesus yang gigih dan konsisten. Doa juga dapat diibaratkan sebagai `tindakan mencari\' untuk mendapatkan atau `tindakan mengetuk pintu` agar dibukakan (9-10). Seorang yang tekun pasti akan menerima imbalan. Yesus juga mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa kepada Allah sebagai Bapa mereka. Sebagai Bapa surgawi, Ia bukan hanya memenuhi permintaan kita, tetapi juga melakukannya untuk kebaikan kita. Dan kebaikan yang terbesar terwujud dalam Roh Kudus yang diberikan-Nya pada kita.

Roh Kudus diperlukan karena Kerajaan Allah yang disebut dalam ay. 2 bersifat rohani. Orang tidak dapat melihat Kerajaan itu apalagi mengalami kedaulatan Allah hanya dengan cara jasmani. Dengan hadirnya Roh Kudus yang dianugerahkan Bapa, kita memiliki relasi riil dengan Allah dan mampu melakukan kehendak-Nya. Juga memiliki cara pandang berdasarkan wawasan yang diterangi oleh Roh Kudus. Oleh karena itu, mintalah Roh Kudus kepada Bapa!

Doa: Berikan kepada kami Roh Kudus ya Bapa, untuk menuntun kami di jalan-Mu. Amin.

SH: Luk 11:5-13 - Bapa yang baik. (Kamis, 19 Februari 2004)

Bapa yang baik.


Perasaan dan anggapan berikut ini sangat boleh jadi membuat kita tidak mempraktikkan doa. Allah terlalu besar, mulia, jauh dari kita yang kecil dengan segala masalah kehidupan yang sepele. Allah tidak merasakan pergumulan manusia sebab sebagai Allah Ia tidak mungkin mengenal apalagi merasakan segala masalah kita. Allah sempurna adanya, tidak mungkin Ia mengurangi kesempurnaan-Nya dengan ikut campur memperhatikan segala urusan kita yang bersumber dari segala kekurangan dan dosa kita. Allah sudah menciptakan kita dengan potensi untuk bertumbuh sendiri tanpa harus lagi melibatkan Dia.

Yesus menolak anggapan dan kesan salah tadi. Sebaliknya dari menolak untuk terlibat, justru kebesaran Allah berarti kebesaran hati-Nya untuk memperhatikan manusia serendah apapun dengan problem dan kebutuhan sepele bagaimanapun. Di dalam hubungan persahabatan kita, meminta tolong dan memberi tolong adalah hal yang lumrah (ayat 5-8). Itu tidak dirasakan sebagai hal mengganggu Sebabnya hanya satu: karena mereka memiliki hubungan persahabatan. Lebih lagi jika hal tersebut terjadi di dalam hubungan bapak-anak (ayat 9-11).

Tidak ada bapak yang tidak sayang kepada anak-anaknya sendiri dan tidak memberi perhatian khusus. Karena itu, tidak ada anak mana pun yang menjauhi bapanya bila anak itu memerlukannya. Ini hanya gambaran tak sempurna bagi yang jauh lebih indah akan kita alami di dalam hubungan akrab kita dengan Allah dalam doa.

“Oleh karena itu,” ujar Yesus, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; … Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (ayat 9,13).

Renungkan: Semakin kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak dari Bapa yang baik di surga, semakin kita akan mendoakan hal-hal utama yang Allah rencanakan untuk hidup kita.

DOA [browning]

Tindak menghubungkan diri dengan Tuhan dengan, atau tanpa perkataan. Percakapan antara Allah dan manusia diberitakan dalam PL (mis. *Abraham, Kej. 15:1-6; Musa, Kel. 3:1-4; 33:11; *para nabi. 1Sam. 3:4-9). Doa dalam PL mencakup permohonan, *syafaat, *pengakuan, dan *pengucapan syukur. Ada ditentukan jam-jam dan hari-hari tertentu untuk doa. Dalam PB diceritakan tentang Yesus yang sering berdoa kepada Bapa-Nya dan mengajarkan *Doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya (Mat. 6:9-13; Luk 11:2-4). Surat-surat dalam PB mengajarkan bahwa doa kepada Allah dilakukan melalui Kristus (Rm. 1:8). Doa dalam PB mencakup *pujian (Kis. 2:47), pengucapan syukur (1Kor. 14:16-17), dan permohonan (Flp. 4:6). Doa tidak dipandang sebagai memaksa Allah untuk bertindak, tetapi sebagai memohon agar jadilah kehendak Allah dan datanglah Kerajaan-Nya.

DOA [ensiklopedia]

I. Pengantar

Dalam Alkitab doa adalah kebaktian mencakup segala sikap roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah. Orang Kristen berbakti kepada Allah jika ia memuja, mengakui, memuji dan mengajukan permohonan kepada-Nya dalam doa. Doa sebagai perbuatan tertinggi yg dapat dilakukan oleh roh manusia, dapat juga dipandang sebagai persekutuan dengan Allah, selama penekanannya diberikan kepada prakarsa ilahi. Seseorang berdoa karena Allah telah menyentuh rohnya. Dalam Alkitab doa bukanlah suatu 'tanggapan wajar dari manusia', karena 'apa yg dilahirkan dari daging adalah daging' (Yoh 4:24). Sebagai akibatnya, Tuhan tidak 'mengindahkan' setiap doa(Yes 1:15; 29:13). Ajaran Alkitab mengenai doa menekankan sifat Allah, perlunya seseorang berada dalam hubungan penyelamatan atau dalam hubungan perjanjian dengan Dia, lalu secara penuh masuk ke dalam segala hak istimewa dan kewajiban dari hubungan dengan Allah.

II. Dalam PL

Kohler (Old Testament Theology, 1957 hlm 251, catatan 153) mendapati kr 85 doa asli dalam PL. Sebagai tambahan ada kr 60 mazmur lengkap dan 14 bagian mazmur yg dapat disebut 'doa'.

a. Zaman para Bapak leluhur

Pada zaman Bapak leluhur doa adalah menyeru nama Tuhan (Kej 4:26; 12:8; 21:33), yakni Nama yg kudus itu disebut dalam doa atau permohonan. Karena itu ada hubungan langsung dan keakraban dalam doa (Kej 15:2 dab; 18:23 dab; 24:12-14, 26 dab). Doa juga dihubungkan erat dengan persembahan korban (Kej 13:4; 26:25; 28:20-22) sekalipun penggabungan ini muncul juga pada zaman-zaman yg kemudian. Persembahan doa dalam hubungan korban ini memberi kesan adanya kesatuan antara kehendak manusia dan kehendak Allah, suatu penyerahan dan penaklukan diri manusia kepada Allah. Khususnya hal ini terjadi pada doa Yakub yg dikaitkan dengan janjinya kepada Tuhan. Janji itu, yg pada dirinya adalah suatu doa, menjanjikan pelayanan dan kesetiaan jika berkat yg dicari itu diberikan (Kej 28:20 dab).

b. Zaman pra pembuangan

1. Pada zaman ini salah satu tekanan utama doa ialah syafaat; memang syafaat juga telah ada pada zaman Bapak leluhur (Kej 18:22 dab). Syafaat khususnya penting dalam doa-doa Musa (Kel 32:11-13, 31 dab; 33:12-16; 34:9; Bil 11:11-15; 14:13-19; 21:7; Ul 9:18-21; 10:10). Ul 30 sebagian besar adalah juga doa syafaat, seperti halnya dengan doa-doa Harun (Bil 6:22-27), Samuel (1 Sam 7:5-13; 12:19, 23), Salomo (1 Raj 8:22-53) dan Hizkia (2 Raj 19:14-19).

Kesimpulannya agaknya demikian, bahwa syafaat itu terbatas pada pribadi-pribadi penting, yg oleh kedudukan yg diberikan Allah kepada mereka apakah sebagai nabi, imam atau raja, memiliki kekuasaan khusus dalam doa sebagai pengantara Allah dan manusia. Tapi Tuhan senantiasa tetap bebas untuk melaksanakan kehendak-Nya; justru ada doa syafaat yg tak berhasil (Kej 18:17 dab; Kel 32:30-35). Dalam Am 7:1-6 'Tuhan menyesal' terhadap perbuatan tertentu sebagai jawaban terhadap syafaat nabi, namun pada ay-ay berikutnya (7:7-8:3) Israel akhirnya diangkut sebagai tawanan. Bahkan Yeremia dilarang mewakili Israel untuk menghadap Allah (Yer 7:16; 11:14; 14:11). Di lain pihak, syafaat Lot (Kej 19:17-23), Abraham (Kej 20:17), Musa (Kel 9:27-33; Bil 12:9 dab) dan Ayub (Ayb 42:8, 10) berhasil. Yg mendasari doa-doa syafaat ini ialah hubungan pribadi yg 'kuat' dengan Allah, yg dimiliki oleh para pengantara itu.

2. Adalah mengherankan bahwa di antara semua peraturan legal dalam Pentateukh tak ada yg menyebut doa kecuali Ul 26:1-15. Juga di sini yg lebih ditekankan ialah rumusan ibadat, bukan doa. Dalam ay 5-11 ada pengucapan syukur, dan dalam ay 13,14 ada suatu pernyataan tentang ketaatan pada masa lalu, tapi hanya dalam ay 15 ada permohonan. Barangkali benar untuk menduga, bahwa korban sering dipersembahkan dengan doa (Mzm 55:14), dan di mana tidak ada doa orang dapat ditegur (Mzm 50:7-15). Di lain pihak sama sekali tidak disebutkan tentang doa di bagian-bagian Pentateukh di mana korban diatur. Hal ini memberi kesan bahwa korban tanpa doa cukup umum.

3. Doa tentu tak dapat diabaikan dalam pelayanan para nabi. Penerimaan penyataan Firman dari Allah sudah melibatkan nabi yg penuh doa ke dalam hubungan dengan Allah. Mungkin sekali bahwa doa bersifat hakiki bagi nabi untuk dapat menerima Firman (Yes 6:5 dab; 37:1-4; Yer 11:20-23; 12:1-6; 42:1 dab). Penglihatan atau wahyu kenabian mendatangi Daniel ketika ia sedang berdoa (Dan 9:20 dab). Kadang-kadang Tuhan membiarkan nabi menunggu untuk waktu yg agak lama dalam doa (Hab 2:1-3). Dari tulisan-tulisan Yeremia kita tahu, bahwa sekalipun doa menjadi syarat hakiki dan realita dalam pengalaman dan pelayanan nabi, namun sering doa mewujudkan suatu latihan roh yg bergejolak (Yer 18:19-23; 20:7-18), dan juga suatu persekutuan yg menyenangkan sekali dengan Allah (1:4 dab; 4:10; 10:23-25; 12:1-4; 14:7-9, 19-22; 15:15-18; 16:19; 17:12 dab).

4. Pada beberapa mazmur ada gabungan dari pola dan spontanitas dalam doa. Disamping doa-doa 'tempat suci' yg formal (ump Mzm 24:7-10; 100; 150) ada doa-doa pribadi untuk mohon: pengampunan (51), bersekutu (63), perlindungan (57), kesembuhan (6), pemulihan nama baik (109), dan doa-doa yg penuh pujian (103). Korban dan doa juga gabung dalam beberapa Mazmur (54:6; 66:13 dab).

c. Zaman pembuangan

Selama masa pembuangan faktor penting dalam agama bagi orang Yahudi ialah munculnya rumah sembahyang (sinagoge). Bait Suci di Yerusalem telah menjadi puing, dan upacara-upacara di mezbah serta korban-korban tak dapat dilayankan di Babel yg tidak suci itu. Seorang Yahudi kini tidak lagi orang yg telah dilahirkan dalam persekutuan dan menetap di situ, tapi lebih berwujud seseorang yg memilih menjadi Yahudi. Pusat umat beragama adalah rumah sembahyang, dan di antara kewajiban keagamaan yg diterima seperti sunat, berpuasa dan pemeliharaan sabat, maka doa menjadi penting.

Ini tidak dapat dielakkan, karena setiap persekutuan kecil di pembuangan kini tergantung kepada pelayanan sinagoge, di mana Firman dibicarakan dan diterangkan, serta doa-doa dinaikkan. Setelah kembali ke Yerusalem, sama seperti Bait Suci tidak diperbolehkan mengganti sinagoge, atau imam mengganti ahli Taurat, atau korban mengganti Firman yg hidup, demikianlah upacara tidak mengganti doa. Baik di Bait Suci maupun di sinagoge dalam upacara imamat dan pengajaran ahli Taurat, penyembah yg beriman kini mencari wajah Tuhan, mencari kehadiran-Nya secara pribadi (Mzm 100:2; 63:1 dab), dan menerima berkat-Nya dengan ungkapan penyinaran wajah-Nya atasnya (Mzm 80:3,7,19).

d. Zaman setelah pembuangan

Tidak dapat diragukan bahwa setelah masa pembuangan ada kerangka kebaktian keagamaan, tapi di dalamnya kebebasan bagi perseorangan dijamin. Hal ini nampak dalam diri Ezra dan Nehemia, yg sekalipun mereka menekankan pemujaan dan Taurat, dan upacara serta korban, yaitu segi sosial dari ibadat, namun mereka juga menekankan faktor rohani dalam kesalehan (Ezr 7:27; 8:22 dab; Neh 2:4; 4:4,9), Doa-doa mereka juga mengandung pelajaran (Ezr 9:6-15; Neh 1:5-11; 9:5-38; bnd juga Dan 9:4-19). Di sini boleh dicatat, bahwa mengenai posisi tubuh saat berdoa tidak mempunyai aturan yg tetap (Mzm 28:2; 1 Sam 1:26; 1 Raj 8:54; Ezr 9:5; 1 Raj 18:42; Rat 3:41; Dan 9:3,20). Demikian juga ihwal waktu untuk berdoa; doa bermanfaat pada setiap saat, sama dengan pada jam-jam yg ditetapkan (Mzm 55:17; Dan 6:10). Maka pada zaman setelah pembuangan terdapat campuran dari upacara yg teratur di Bait Suci, kesederhanaan pertemuan di sinagoge, dan spontanitas kebaktian perseorangan.

Jelas adalah sulit untuk membuat sistem doa secara lengkap. Dalam PL memang ada pola-pola bagi doa, tapi tiada aturan yg mengikat yg mengatur baik isinya maupun upacaranya. Doa yg mekanis, doa yg dikurung oleh aturan-aturan yg memaksa, tidak muncul sampai menjelang penutupan zaman antara PL dan PB, seperti dijelaskan oleh Injil-injil. Kemudian, sayangnya, baik melalui korban di Bait Suci di Yerusalem dan melalui pujian, maupun doa dan eksposisi Firman dalam sinagoge di perantauan, dan melalui sunat penyucian sabat, persepuluhan, puasa dan perbuatan-perbuatan yg berlebih-lebihan, orang-orang yg beribadah baik di Bait Suci maupun di sinagoge adalah sama-sama berusaha mendapat imbalan jasa diterima oleh Allah.

III. Dalam PB

Ada tempat-tempat tertentu dimana ajaran PB tentang doa dikemukakan, tapi sumber pokok dari mana semua ajaran tentang doa mengalir adalah doktrin dan praktik Kristus sendiri.

a. Injil-injil

1. Ajaran Yesus tentang doa, secara asasi diuraikan dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya yg tertentu. Dalam perumpamaan mengenai teman meminjam tiga potong roti tengah malam (Luk 11:5-8), Yesus menekankan keadaan keterdesakan dan kesungguhan dalam doa. Dan dasar yg di atasnya hal ini dibangun ialah kebaikan Allah Bapak (Mat 7:7-11). Perumpamaan tentang hakim yg lalim (Luk 18:1-8) menantang orang untuk terus berdoa, mencakup ketekunan dan kesinambungan. Bahwa Allah tidak serta merta menjawab doa bukanlah karena tak acuh, melainkan karena kasih yg ingin mengembangkan dan memperdalam iman yg pada akhirnya akan dibenarkan.

Dalam perumpamaan tentang pemungut cukai dan Farisi (Luk 18:10-14), Kristus menuntut kerendahan hati dan penyesalan dalam doa, dan mengingatkan bahaya mengagungkan diri. Merendahkan diri dalam doa berarti diterima oleh Allah, meninggikan diri dalam doa berarti menutupi wajah Allah. Kristus mengajarkan kasih dalam doa pada perumpamaan hamba yg tak adil (Mat 18:21-35). Doa yg dijawab Allah ialah doa yg dinaikkan oleh roh yg suka mengampuni. Kesederhanaan dalam doa diajarkan dalam Mat 6:5 dab; 23:14; Mrk 12:38-40; Luk 20:47. Doa harus dibersihkan dari segala kepura-puraan atau kepalsuan. Doa harus lahir dari kesederhanaan hati dan motivasi yg lugu, serta mengungkapkan diri dalam kesederhanaan ucapan dan permohonan.

Tuhan juga menuntut intensitas dalam doa (bnd Mrk 13:33; 14:38; Mat 26:41). Di sini 'berjaga-jaga' dan 'iman' digabungkan dalam kewaspadaan yg celik senantiasa. Tambahan lagi dalam Mat 18:19 dab, kesatuan dalam doa ditekankan. Jika sekelompok orang Kristen yg memiliki pikiran Kristus berdoa dalam Roh Kudus, doa mereka akan dikabulkan. Tapi doa juga harus penuh pengharapan (Mrk 11:24). Doa bersifat percobaan mendapat sedikit; doa berdasarkan iman yg bekerja dalam penyerahan kepada kehendak Allah mendapat banyak (Mrk 9:23).

2. Mengenai sasaran-sasaran doa Yesus tidak banyak berbicara. Ia puas dengan membuat Roh Kudus memimpin murid-murid-Nya dalam doa. Tujuan-tujuan yg Ia harapkan dalam doa dapat ditemukan dalam Mrk 9:28 dab; Mat 5:44; 6:11, 13; 9:36 dab; Luk 11:13.

3. Mengenai cara berdoa Tuhan mengajarkan dua hal penting. Pertama, kini doa harus dinaikkan kepada-Nya, seperti dahulu ketika Ia masih ada di dunia (ump Mat 8:2; 9:18). Seperti dahulu Ia menuntut iman (Mrk 9:23), menguji kesungguhan (Mat 9:27-31), membukakan ketidaktahuan (Mat 20:20-22) dan menganggap diri penuh. dosa (Mat 14:27-31), pada mereka yg meminta kepada-Nya, demikianlah kini Ia berbuat sama dalam pengalaman mereka yg menaikkan doa kepada-Nya.

Kedua, kini doa juga harus dinaikkan dalam nama Kristus (Yoh 14:13; 15:16; 16:23 dab), oleh-Nya kita beroleh jalan masuk kepada Bapak. Berdoa dalam nama Kristus berarti berdoa seperti Kristus sendiri berdoa, dan berdoa kepada Bapak seperti Anak memperkenalkan Dia kepada kita; dan bagi Yesus, pusat yg sebenarnya dalam doa ialah kehendak Bapak. Di sinilah sifat asasi bagi doa Kristiani: suatu jalan masuk yg baru yg menuju kepada Bapak, yg dijamin Kristus bagi orang Kristen, dan doa dalam keselarasan dengan kehendak Bapak karena dinaikkan dalam nama Kristus.

4. Mengenai praktik doa Tuhan Yesus, telah diketahui bahwa Ia berdoa secara tersembunyi (Luk 5:15 dab; 6:12); pada waktu ada pertentangan rohani (Yoh 12:20-28; Luk 22:39-46); dan di kayu salib (Mat 27:46; Luk 23:46). Dalam doa-doaNya Ia mengucapkan syukur (Luk 10:21; Yoh 6:11; 11:41; Mat 26:27), mencari bimbingan (Luk 6:12 dab), mengajukan syafaat (Yoh 17:6-19, 20-26; Luk 22:31-34; Mrk 10:16; Luk 23:34), dan bersekutu dengan Bapak (Luk 9:28 dab). Beban dari doa 'imam besar-Nya' dalam Yoh 17 ialah kesatuan gereja-Nya.

5. 'Doa Bapak Kami' akan dibicarakan lebih lengkap di tempat lain. Di sini cukup ditunjukkan bahwa setelah seruan (Mat 6:9b) menyusullah 6 permohonan (ay 9c-13b). Tiga permohonan pertama dikaitkan dengan nama Allah, kerajaan dan kehendak-Nya, sedang 3 permohonan yg terakhir dikaitkan dengan keperluan makan, pengampunan dan kemenangan. Setelah itu doa ditutup dengan suatu pemuliaan (ay 13c) yg berisi 3 pengumuman mengenai kerajaan Allah, kuasa dan kemuliaan-Nya. Menurut cara inilah kini orang Kristen berdoa.

b. Kisah para Rasul

Kis menjadi penghubung yg baik sekali antara Injil-injil dan Surat-surat, karena dalam Kis gereja rasuli mempraktikkan ajaran Tuhan tentang doa. Gereja dilahirkan dalam suasana doa (1:4). Sebagai jawaban atas doalah maka Roh Kudus diturunkan atasnya (1:4; 2:4). Doa itu berlangsung menjadi hawa yg dihirup gereja (Kis 2:42; 6:4,6). Dalam pemikiran gereja tetap ada hubungan yg erat antara doa dan kehadiran dan kuasa Roh (Kis 4:31). Pada waktu-waktu krisis terjadi gereja lari kepada doa (Kis 4:23 dab; Kis 12:5,12). Di seluruh Kis para pemimpin gereja muncul sebagai orang-orang yg berdoa (Kis 9:40; 10:9; 16:25; 28:8), yg menuntut supaya orang Kristen berdoa dengan mereka (Kis 20:28, 36; 21:5).

c. Surat-surat Paulus

Penting sekali bahwa segera setelah Kristus menyatakan diri kepada Paulus di jalan menuju Damsyik, tentang Paulus dikatakan, 'Ia sekarang berdoa' (Kis 9:11). Agaknya inilah pertama kali Paulus menemukan apakah sebenarnya doa itu, sebab begitu dalamnya perubahan hatinya yg diakibatkan oleh pertobatan. Sejak saat itu ia menjadi pendoa. Dalam doa Tuhan berfirman kepadanya (Kis 22:17 dab). Doa ialah ucapan syukur, syafaat, perealisasian kehadiran Allah (bnd 1 Tes 1:2 dab; Ef 1:16 dab). Ia menemukan bahwa Roh Kudus membantunya dalam doa jika ia berusaha untuk mengetahui dan melakukan kehendak Allah (Rm 8:14,26). Dalam pengalamannya ada hubungan yg erat antara doa dan kecerdasan Kristiani (1 Kor 14:14-19).

Doa bersifat hakiki bagi orang Kristen (Rm 12:12). Senjata orang Kristen (Ef 6:13-17) mencakup doa yg diuraikan Paulus sebagai 'segala doa dan permohonan', yg harus dinaikkan 'setiap waktu', dengan 'tiada putusnya' untuk'segala orang kudus' (ay 18). Dan Paulus melaksanakan apa yg ditulisnya (Rm 1:9; Ef 1:16; 1 Tes 1:2); karena itu ia memberi penekanan pada doa jika ia menulis kepada orang-orang yg seiman dengan dia (Flp 4:6; Kol 4:2).

Dalam Surat-suratnya Paulus senantiasa dirasuki doa. Baiklah kita mengamati beberapa dari doanya bertalian dengan isi doa-doa itu.

1. Dalam Rm 1:8-12 ia mencurahkan hatinya kepada Allah sebagai ucapan syukur (ay 8), menekankan pelayanan bagi Kristus dengan rohnya (ay 9a), mendoakan teman-temannya yg di Roma (ay 9b), mengungkapkan keinginannya untuk membagikan kepada mereka suatu karunia rohani (ay 10 dab), dan berkata bahwa dia juga tergantung kepada mereka bagi pembangkitan rohani (ay 12).

2. Dalam Ef 1:15-19 Paulus mengucapkan syukur kepada Allah untuk orang yg bertobat (ay 15 dab), dan berdoa agar mereka boleh menerima Roh, yg oleh-Nya diperoleh pengenalan Allah dan penerangan hati (ay 17,18a), supaya mereka boleh mengetahui harapan panggilan Allah, kekayaan warisan Allah, dan kebesaran kuasa Allah, yg telah diungkapnyatakan dalam kebangkitan Kristus (ay 18b, 19).

3. Dalam Ef 3:14-18 Paulus memohon dengan sangat kepada Bapak (ay 14 dab) bagi sesamanya Kristen, supaya mereka boleh makin bertambah-tambah sadar akan kuasa Allah (ay 16), hingga akhirnya Kristus dapat berdiam di dalam mereka, dan supaya mereka boleh berakar dalam kasih (ay 17), bahwa masing-masing bersama-sama boleh disempurnakan dan dipenuhi dengan kepenuhan Allah (ay 18 dab). Kedua doa 'Efesus' ini dengan cara yg indah dirangkum dalam keinginan Paulus yg tiga macam, yakni kiranya orang Kristen beroleh pengetahuan dan kuasa untuk menerapkan kasih Kristus, yg olehnya mereka sebagai perseorangan dan sebagai kelompok menerima penyempurnaan.

4. Dalam Kol 1:9 dab Paulus berdoa lagi supaya orang percaya mengetahui kehendak Allah melalui hikmat dan pengertian rohani (ay 9), supaya praktik hidup dapat sesuai dengan kepercayaan (ay 10), supaya mereka diberi kuasa bagi praktik hidup mereka (ay 11), dan penuh ucapan syukur terhadap hak-hak dan kedudukan mereka yg istimewa di dalam Tuhan Yesus (ay 12 dab).

Tapi barangkali sumbangan Paulus yg terbesar bagi pengertian doa Kristiani, ialah bahwa ia meneguhkan hubungan doa itu dengan Roh Kudus. Doa sebenarnya adalah suatu karunia pemberian Roh (1 Kor 14:14-16). Orang percaya berdoa 'dalam Roh' (Ef 6:18; Yud 20); karena itu doa adalah kerja sama antara Allah dan orang percaya dalam hal doa diajukan kepada Bapak, dalam nama Anak, oleh dorongan Roh Kudus yg diam di dalam dia.

d. Surat Ibr, Yak dan 1 Yoh

Surat Ibr memberi sumbangan penting pada pengertian tentang doa Kristiani. Ibr 4:14-16 menunjukkan bagaimana doa bisa mungkin; doa adalah mungkin karena kita mempunyai seorang Imam Besar Agung yg bersifat sekaligus insani dan ilahi, karena kini Ia berada di sorga dan karena apa yg kini sedang Ia lakukan di sana. Jika kita berdoa, maksudnya ialah supaya kita menerima belas kasihan dan kasih karunia. Penunjukkan kepada hidup doa Tuhan Yesus dalam 5:7-10 benar-benar mengajarkan apa doa itu: 'doa-doa' Kristus dan 'permohonan-permohonan'-Nya 'dipersembahkan' kepada Allah, dan dalam pelayanan rohani ini Ia 'belajar taat' dan oleh karenanya 'didengar'. Dalam 10:19-25 tekanan diletakkan pada doa bersama dan tuntutan-tuntutan serta dorongan-dorongan yg terkandung di dalamnya. Tempat doa diuraikan dalam 6:19.

Kitab Yak mempunyai tiga bagian penting tentang doa. Doa pada saat kebimbangan dibicarakan dalam Yak 1:5-8; dorongan-dorongan yg benar dalam doa digarisbawahi dalam 4:1-3; dan pentingnya doa pada waktu sakit dijelaskan dalam Yak 5:13-18.

Dalam Suratnya yg pertama Yohanes menunjukkan cara supaya berani dan berhasil dalam doa (1 Yoh 3:21 dab), sedang dalam 1 Yoh 5:14-16 ia menjelaskan hubungan antara doa dan kehendak Allah, dan menunjukkan bahwa keberhasilan dalam doa khususnya cocok bagi doa syafaat, tapi bahwa keadaan-keadaan memang dapat timbul dimana doa menjadi tak berdaya.

IV. Kesimpulan

Inti ajaran Alkitab tentang doa diungkapkan dengan balk oleh BY Westcott, 'Doa yg benar -- doa yg harus dijawab -- ialah pengakuan dan penerimaan pribadi terhadap kehendak ilahi' (Yoh 14:7; bnd Mrk 11:24). Justru terkabulnya doa yg mengajarkan ketaatan, bukan pertama-tama terletak pada pengajuan permohonan khusus itu, yg dianggap oleh orang yg berdoa sebagai jalan menuju kepada tujuan yg diinginkan, tapi jaminan bahwa apa yg Allah berikan itulah yg paling efektif menuju kepada tujuan tersebut. Demikianlah kita diajar betapa Kristus telah belajar bahwa tiap perincian hidup dan penderitaan-Nya membantu pemenuhan pekerjaan yg untuknya Ia telah datang supaya memenuhinya, sehingga dengan cara demikian Ia 'telah didengar' dengan cara yg paling sempurna. Dalam arti inilah Ia 'didengar bagi ketakutan-Nya kepada Allah'.

KEPUSTAKAAN. H Trevor Hughes, Prophetic Prayer, 1947; F Hailer, Prayer, 1932; J. G. S. S Thomson, The Praying Christ, 1959; Ludwig Kohler, Old Testament Theology, 1957; Th. C Vriezen, An Outline of Old Testament Theology, 1958; H Schonweiss, C Brown, G. T. D Angel, NIDNTT 2, hlm 855-886; H Greeven dll, TDNT 2, hlm 40-41, 685-687; 775-808; 3, hlm 296-297; 5, hlm 773-799; 6, hlm 758-766; 8, hlm 244-245. JGSST/HH

AKANKAH IA MENGABAIKAN DOA KITA?

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Oktober 2011 -

Baca: Lukas 18:1-8

"Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" Lukas 18:7

Sebagai manusia kita cenderung mudah putus asa dan tidak sabar menantikan jawaban doa kita. Itulah sebabnya Yesus mengajar kita berdoa tak putus-putusnya. "Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." (ayat 1). Kita wajib berdoa setiap hari dan setiap saat, karena jika tidak, kita tidak akan memiliki hubungan harmonis dengan Bapa. Kadangkala kita kecewa dan kehilangan semangat, kita berpikir seolah-olah doa kita tidak akan didengar Bapa. Sorga nampak seolah-olah mempunyai pintu baja yang menghalangi doa kita mencapai Allah. Tetapi Yesus menghendaki kita senantiasa berdoa sekalipun belum ada tanda-tanda jawaban atas doa kita.

Jika kita menyerahkan hidup dalam tangan Yesus, Bapa kita bukan hanya mendengar doa-doa kita, tetapi Ia juga akan menjawab doa-doa kita. "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?"Allah Bapa kita tidak berlambat-lambat dalam membalas doa kita, tetapi kitalah yang harus bersabar dan belajar menerima segala sesuatunya sejalan dengan rencana dan jadwal Allah. Sesungguhnya apa yang kita butuhkan telah tersedia, tetapi hal itu akan dinyatakan kepada kita pada waktu yang tepat. Ketika kita menabur benih, benih itu tidak bertumbuh dalam waktu semalam; ia membutuhkan waktu beberapa hari untuk tumbuh. Dan kita akan menuainya setelah beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian. Demikian juga dengan doa-doa kita. Kadang kita harus berdoa untuk jangka waktu yang lama baru kita dapat menikmati hasilnya.

Janganlah tawar hati karena Yesus berkata, "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Lukas 11:10). Jadi barangsiapa belum juga menerima jawaban doa-doanya, bersabarlah dan nantikanlah waktuNya. Mungkin Ia menghendaki engkau membuktikan kesetiaan dan kesabaranmu dalam masa-masa kesukaranmu. Atau mungkin saja Allah ingin membangun karaktermu melalui ujian yang kauhadapi sehingga engkau memiliki karakter Anak.

Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya; dan tak peduli apa masalahmu, bagi Allah, jawabannya amat mudah! Jadi, jangan berhenti berdoa!

Perseverantia, yang artinya “memiliki daya tahan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan”. Perseverantia muncul kalau di dalam diri orang muncul suatu harapan atau keinginan atau cita-cita yang mau diraih. Tidak hanya dalam hidup jasmani, Perseverantia diperlukan tetapi juga dalam hidup rohani.

Dalam Injil hari ini (Luk11:5-13) Perseverantia tampak.”Mintalah, maka kamu akan diberi. Carilah maka kamu akan mendapat, ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu.” Minta, mencari, mengetuk
memerlukan suatu ketahanan. Banyak orang sekarang ini mudah mengeluh, mudah patah semangat, mudah kecewa, dan sebagainya yang menunjukkan tidak adanya ketahanan dan ketekunan. Bagi orang seperti ini sangat sulit untuk meraih cita-cita.

Teilhard de Chardin menyebutkan bahwa hendaknya dalam diri setiap orang ada suatu “intuisi awal” dalam mengerjakan sesuatu. Intuisi awal berupa tujuan, cita-cita, keinginan, harapan yang mau diraih lewat pekerjaan yang mau dilakukan. Kita bisa melihat, kalau ada mahasiswa yang merasa sulit untuk memulai menulis skripsi. Dalam otaknya tidak ada ide. Mungkin, dulu ketika memasuki jurusan yang ia pelajari hanya karena tidak diterima di mana-mana lalu masuk ke jurusan seadanya. Jadi, tidak ada intuisi awal. Perseverantia juga tidak pernah akan tampak

.
Dalam hal ini, kita melihat pentingnya permohonan dalam setiap doa. Permohonan yang sungguh-sungguh akan mengarahkan doa kita. Yang jadi masalah adalah, permohonan macam mana yang kita miliki. Apakah kita cuma memperhatikan self will, self interest, self love kita. Atau, mau sungguh-sungguh mencintai Allah kita. Roh Kudus sendiri yang akan membangkitkan perseverantia dalam hidup kita seturut permohonan kita . Maka, di akhir Injil, Yesus mengatakan,”Ia akan memberikan Roh Kudus kepada siapa pun yang meminta kepada-Nya.” Sekalian kita melihat diri kita masing-masing, apakah kita mempunyai perseverantia dalam mengolah hidup rohani? Kalau tidak, mungkin kita tidak punya “intuisi awal” dalam setiap doa-doa kita.

Mintalah, Maka Akan Diberikan Kepadamu

Matius 7:7 - Khotbah oleh Pastor Eric Chang

Hari ini kita melanjutkan studi sistematis ajaran Tuhan di Matius 7:7. Ayat ini berbunyi seperti berikut: "Berilah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." Agar kita memperoleh seluruh konteksnya kita harus membaca hingga ke ayat 12. "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".

Dari pengupasan firman Matius 7:6 di Khotbah yang lalu, kita melihat bahwa Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada kita tentang jangan memberikan kepada anjing apa yang kudus atau melemparkan mutiara kepada babi. Kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa sifat lama manusia yang dalam keberdosaannya, dalam kejijikannya adalah seperti sifat anjing dan babi. Kita melihat bahwa manusia duniawi tidak menerima hal-hal dari Allah. Dari Khotbah tersebut kita juga melihat bahwa Allah tidak pernah memaksa ke atas kita InjilNya, kebenaranNya yang luar biasa dan ajaib itu. Dalam hubungan dengan hal ini, saya ingin mengatakan satu hal yang lain. Gereja mula-mula, yaitu bapa-bapa Rasuli di abad pertama, menggunakan ayat ini untuk menunjukkan bahwa barangsiapa yang belum dibaptis, tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Dalam karya yang sangat penting yang disebut "The Didache", yaitu ajaran-ajaran bapa-bapa Rasuli, dikatakan bahwa tidak seorangpun yang belum dibaptis diizinkan untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus atas alasan bahwa benda-benda kudus tidak diberikan kepada anjing. Yakni, barangsiapa yang belum, melalui proses iman dan baptisan, menjadi manusia baru. Ini menunjukkan bahwa bapa-bapa Rasuli juga melihat bahwa anjing mewakili manusia lama dalam sifat lamanya.

Hari ini, bukan saja dalam pokok ini tetapi dalam begitu banyak pokok yang lain, gereja tidak tahu tentang ajaran Firman Allah. Orang diizinkan untuk mengambil bagian dalam Perjamuan padahal belum pernah dibaptis, karena adalah jelas bahwa para pengajar di gereja hari ini sepertinya tidak memahami arti Perjamuan Kudus. Dan apabila orang datang kepada saya, yang belum dibaptis dan bertanya apakah mereka boleh mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus dan saya berkata, "Tidak". Mereka kaget. Mereka pikir, "Semua pendeta di gereja lain mengizinkannya. Mengapa anda tidak mengijinkannya?" Sepertinya saya menonjol di angkatan ini sebagai seorang yang aneh, bukan karena saya menghendakinya, bukan karena saya mau berbeda, tapi karena Firman Allah mengajarkan dengan cara ini. Mengapa orang tidak melihatnya?" Apakah saya kehilangan sesuatu jika saya mengizinkan orang yang belum dibaptis untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Saya bisa saja berkata, "Ya, silahkan." Saya berkata "tidak" demi orang tersebut, bukan demi diri saya karena seperti nats yang dibacakan setiap kali Perjamuan Kudus diadakan, "barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan". Orang itulah yang bermasalah nanti, bukan saya. Ada kalanya apabila saya memikirkan kata-kata Paulus, "Jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?" Hal ini saya katakan demi kebaikan anda, bukan demi kebaikan saya sendiri. Mengapa anda harus kurang mengasihi saya karena saya menyatakan sesuatu yang baik untuk diri anda? Tapi sebagaimana yang telah kita lihat di Khotbah yang lalu, terdapat orang yang tidak terlalu mempedulikan kebenaran. Mereka tidak mau mendengarkan kebenaran. Mereka tidak mau bersusah payah menyelidiki kebenaran, jadi mereka tidak senang mendengar hal ini. Tapi ada kalanya, saya juga tidak dapat menyalahkan orang-orang ini karena pendeta-pendeta lain menyatakan ini dan saya menyatakan sesuatu yang berbeda, jadi sepertinya saya seorang melawan mayoritas. Adalah sesuatu yang sangat menyedihkan bahwa di angkatan ini, di hari dan jaman ini, terdapat begitu banyak ketidak-tahuan akan Firman Allah. Saya tidak ingin menyerang pendeta-pendeta yang lain, tapi pergilah dan tanyalah pendeta yang kalian kenal. Mintalah mereka untuk menguraikan kepada anda arti Perjamuan Kudus. Tanyalah mereka apa arti Perjamuan Kudus. Saya mau meminta kalian untuk mencari tahu berapa dari mereka yang dapat menguraikan kepada anda apa sesungguhnya arti Perjamuan Kudus. Dan bukan hanya memberitahu anda bahwa ia adalah semacam peringatan. Yang sering kita dengarkan sekarang adalah bahwa Perjamuan Kudus adalah semacam peringatan. Jika ia hanya semacam peringatan, bagaimana anda dapat berdosa terhadap tubuh dan darah Kristus? Kemukakan pertanyaan ini dan apabila anda sudah menyelidiki sampai ke akar persoalan, putuskanlah siapa yang menyatakan kebenaran.

Harinya akan tiba di mana anda harus mencari kebenaran sekalipun kebenaran itu akan membuat orang lain tersinggung. Seperti yang saya katakan tadi, ajaran tentang Perjamuan Kudus adalah satu prinsip yang diajarkan oleh para bapa Rasuli di gereja mula-mula. Hal ini bukan sesuatu yang saya ciptakan di abad ke-20. Saya dapat memberitahu anda bahwa segala sesuatu yang saya ajarkan dapat dibuktikan bukan hanya dari Firman Allah tapi juga dari ajaran gereja mula-mula dan para bapa Rasuli. Sayangnya, hari ini banyak orang yang tidak familiar dengan ajaran para bapa Rasuli, apa tah lagi ajaran Kitab Suci. Kita harus kembali ke Firman Allah. Persoalan apakah kita populer atau tidak, tidaklah penting. Tuhan Yesus berkata bahwa apa yang dibutuhkan dari seorang hamba adalah bahwa ia setia. Hal inilah yang paling penting.

Sekarang marilah kita buka ke Matius 7:7. Terkandung begitu banyak kekayaan di perikop ini dan saya kira kita tidak dapat meliputi lebih dari satu ayat hari ini. Apa kaitan ayat ini dengan ayat-ayat yang sebelumnya? Dua hal: Pertama, bila anda melihat ke dalam ajaran Tuhan di Kotbah di Bukit sejauh ini, anda akan melihat bahwa standar yang ditetapkan sangatlah tinggi, lalu pertanyaannya adalah: dapatkah anda mencapai standar yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus? Di gereja masa kini, satu lagi hal yang tidak diajarkan adalah tanggungjawab kita. Kita secara terus menerus diberitahu tentang apa yang Allah kerjakan dan Allah mengerjakan segala sesuatu dan dianggapkan bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa pun. Allah mengerjakan segala sesuatu dan kita tidak mengerjakan apa-apapun. Itulah alasan mengapa adalah sangat penting untuk mempelajari Khotbah di Bukit. Firman-firman ini ditujukan kepada kita. Ia memberitahu kita apa yang harus kita lakukan, apa tanggungjawab kita di hadapan Allah. Tapi bila kita melihat tanggungjawab tersebut, kita hanya dapat menyerah dan berkata, "Tuhan, bagaimana saya dapat mencapai standar tersebut? Dengan kekuatan saya sendiri, dengan hikmat saya, saya tidak dapat menjalani kehidupan yang sebegini." Apabila anda mulai melihat itu, anda sudah dalam perjalanan menjadi seorang Kristen yang sejati.

Hari ini gereja begitu penuh dengan orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat menjalani kehidupan mereka sebagaimana mereka mau dan mereka masih tetap akan diselamatkan. Tuhan Yesus berkata, "Kamu harus mengasihi Tuhan AllahMu dengan segenap hatimu dan mengasihi sesama seperti dirimu sendiri", dan mereka hanya mengasihi diri mereka sendiri dan mereka masih berpikir, "Saya percaya pada Yesus, saya akan diselamatkan tidak kira apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, saya masih tetap akan diselamatkan." Apa yang Yesus ajarkan tidak penting, apa yang penting adalah apa yang dikatakan oleh penginjil dan apa yang dikatakan oleh pendeta tapi apa yang dikatakan oleh Yesus tidak sesungguhnya penting. Pendeta itu berkata bahwa selama saya percaya pada Yesus, tidak kira bagaimana kehidupan saya, saya tetap akan diselamatkan sekalipun Yesus berkata yang lain.

Biarlah saya bertanya saudara-saudara, bandingkan apa yang dikatakan oleh para pendeta dan penginjil dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Bandingkan apa yang saya katakan dalam terang apa yang Tuhan Yesus katakan. Lihatlah apakah kami menyatakan hal yang sama, apakah pendeta-pendeta menyatakan hal yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Jika apa yang saya katakan tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Firman Allah, maka saya seorang pendusta dan setiap orang mempunyai hak untuk mengumumkan bahwa saya seorang pendusta. Tuhan Yesus berkata, "kasihilah musuhmu, bukan hanya sesama." Berapa banyak orang Kristen yang dapat mengasihi saudara-saudara dalam gereja, belum lagi musuh mereka? Tuhan Yesus berkata, "carilah dulu kerajaan Allah dan segala sesuatu", hal-hal materil "akan ditambahkan kepadamu." Berapa banyak orang Kristen yang dapat dengan jujur dan dengan hati nurani yang murni berkata bahwa hal pertama yang mereka cari di dunia ini dan di hidup ini adalah kerajaan Allah dan kebenaranNya? Namun orang-orang yang sama, yang tidak mencari dulu Kerajaan Allah, diberikan jaminan oleh banyak pendeta bahwa selama mereka percaya pada Yesus, mereka akan diselamatkan. Jadi kita harus terus menerus membandingkan pemikiran kita dan apa yang dikatakan oleh orang dengan apa yang diajarkan oleh Yesus.

Di akhir Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus berkata, "Pada hari terakhir", yaitu pada hari Penghakiman, "banyak yang akan berkata kepada Aku, 'Tuhan, Tuhan, tidakkah kami melakukan ini dan itu dalam namamu?" Dalam namaNya? Tapi Tuhan berkata, "Aku tidak mengenal kamu. Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan." Kira-kiranya berapa banyak orang yang akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, Tuhan, itulah apa yang diajarkan pendeta kepada saya, itulah yang diajarkan oleh penginjil itu kepada saya. Ia berkata bahwa yang perlu dilakukan hanyalah percaya dalam nama Yesus. Saya percaya dalam nama Engkau. Apakah salahku?" Tuhan Yesus berkata, "Hanya dia yang melakukan kehendak BapaKu di surga, hanya orang yang sedemikian yang masuk ke dalam kerajaan." Melainkan iman sejati itu diungkapkan dalam tindakan, dalam melakukan kehendak Bapa, jika tidak iman itu tidak akan menyelamatkan sesiapapun.

Dan juga karena alasan bahwa orang tidak pernah diberitahu tentang tanggungjawab mereka maka tidak ada ketergantungan pada Allah yang seharusnya dimiliki setiap orang Kristen. Apakah setiap hari anda hidup bergantung pada Allah, berkata kepadaNya, "Tuhan, saya lemah. Saya tidak mempunyai kekuatan. Berikan kekuatan yang saya butuhkan, saya memohon pada Engkau." Itulah alasan mengapa saya berkata tadi bahwa jika anda merasa lemah dan kekurangan dan karena itu anda secara terus menerus bergantung pada Allah, maka anda sudah dalam proses menjadi seorang Kristen yang sejati. Inilah alasan mengapa di akhir Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus berkata, "Mintalah, maka kamu akan menerima." Aku tahu bahwa anda tidak memiliki kekuatan. Aku tahu bahwa anda tidak punya kuasa, tapi mintalah dan anda akan memilikinya". Jika kata-kata itu tidak Tuhan Yesus katakan di akhir Khotbah di Bukit, saya kira kita semua dalam keadaan tanpa harapan. Karena bila kita memandang pada standar yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus, tidak ada perasaan lain melainkan perasaan keputus-asaan. "Aku begitu egois, aku begitu lemah. Bagaimana aku dapat mengasihi, mengasihi dengan cara Engkau? Aku begitu lemah bila aku melihat hal-hal menarik di dunia ini. Ah! Dunia melambai-lambai kepadaku. Dunia menarik aku. Tuhan, bagaimana aku dapat menjalani kehidupan mencari dahulu KerajaanMu, melainkan Engkau memberikan aku kekuatan." Tapi di sini, di akhir Khotbah di Bukit, Tuhan memberikan kita pengharapan dan kekuatan yang kita butuhkan. Ia menjanjikan kepada kita segala sesuatu yang kita perlukan dalam mengikuti jalan melakukan kehendak Bapa. Ia berkata, "segala sesuatu yang baik akan diberikan kepadamu." Segala sesuatu yang anda perlukan akan diberikan kepadamu. Dan apakah hal-hal yang baik itu? Bila anda bandingkan dengan Injil Lukas, anda akan menemukan bahwa Ia secara khusus menunjuk kepada Roh Kudus. Roh Kudus adalah Allah Sendiri. Dan apabila anda mempunyai Allah, anda mempunyai segala sesuatu. Justru inilah pokoknya menjadi Kristen, yaitu memiliki Allah. Apabila anda memiliki Allah, anda memiliki hidup kekal. Anda tidak akan pernah memiliki hidup kekal di luar Allah. Anda tidak dapat memiliki hidup kekal sebagai sesuatu yang terpisah dari Allah. Ini hidup kekal dan Allah di sebelah sana. Hidup kekal adalah kehidupan Allah Sendiri. Oleh karena itu, apabila anda punya Allah, barulah anda memiliki hidup kekal. Apabila anda mempunyai Yesus, anda mempunyai hidup kekal. Jika anda tidak mempunyai Tuhan Yesus dalam hidup anda, anda tidak mempunyai hidup kekal. Jadi kita melihat bahwa alasan pertama Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang meminta disini adalah justru karena, di akhir Khotbah di Bukit, kita membutuhkan kekuatan untuk menjalani kehidupan yang merupakan panggilan surgawiNya bagi kita.

Alasan kedua adalah prinsip hubungan Allah dengan kita, yaitu prinsip dalam doa. Anda telah perhatikan, sebagai contoh, di Khotbah yang lalu tentang ajaran Tuhan di ayat 6, bahwa Allah tidak pernah memaksakan anugerahNya ke atas kita. Itu berarti, jika anda tidak memintanya, anda tidak memperoleh. Itu berarti, jika anda bukan seorang Kristen, dan jika anda tidak meminta keselamatan yang dari Allah, Allah tidak akan mengambil keselamatanNya dan melemparkan kepada anda. Tidak, anda tidak akan pernah memperolehnya. Prinsip yang sama ini berlaku bagi orang Kristen juga. Rasul Yakobus berkata di Yakobus 4:2-3 dan ia sedang berbicara kepada orang Kristen, "Kamu tidak menerima karena kamu tidak meminta", dan di ayat 3 ia berkata, "Kamu meminta dan kamu tidak memperoleh karena kamu meminta hal yang salah, karena anda meminta untuk memuaskan hawa nafsumu." Sekarang pertimbangkan ini, banyak orang Kristen tidak mempunyai karunia-karunia rohani yang tertentu. Pernahkah terlintas di pikiran anda bahwa anda tidak memperoleh karena anda tidak meminta? Mungkin anda melihat seorang saudara lain di gereja dan anda berkata, "Mengapa ia mempunyai begitu banyak karunia yang dapat dipakai Allah?" Pernahkah terlintas di benak anda untuk meminta hal-hal tersebut? Apa saja yang anda inginkan atau butuhkan dalam pekerjaan Allah, yang akan dipakai untuk kemuliaan Allah dan bagi pembangunan Gereja, anda boleh meminta dengan keyakinan bahwa anda akan menerima, selama anda meminta bukan untuk memuaskan hawa nafsumu. Bila Tuhan Yesus berkata, "Mintalah dan kamu akan menerima", dalam konteks ini, ia tidak berkata bahwa anda meminta mobil, dan anda akan menerima mobil. Minta mobil BMW, dan anda akan memperoleh mobil BMW. Jadi jika anda hanya meminta mobil kecil, maka anda rugi, mengapa tidak minta mobil besar!?

Jadi kita dapat melihat bahwa apabila Tuhan berbicara mengenai meminta, Ia berkata anda mungkin akan meminta benda-benda untuk memuaskan hawa nafsu dan ketamakan anda. Prinsip yang penting adalah ini: Jika anda meminta sesuatu yang bersifat rohani, dan Allah dimuliakan dan membawa manfaat bagi gereja, maka anda dapat meminta dengan keyakinan bahwa anda akan memperolehnya. Di sini kita juga melihat begitu banyak kekayaan yang terkandung di dalam satu kalimat ajaran Tuhan. Dalam satu ayat ini, seluruh prinsip hubungan Tuhan dengan kita didefinisikan dengan jelas. Allah berkata, "mintalah, anda akan menerima", fakta bahwa anda akan menerima, bahwa Ia memberikan kepada anda, itu adalah kasih anugerahNya Sendiri. Ia memberikan kepada anda dengan cuma-cuma saat anda memintanya. Disini kita melihat, di satu sisi anugerah Allah bahwa Ia memberikan cuma-cuma kepada mereka yang dalam kebutuhan. Tapi perhatikan juga tanggungjawab kita. Ia tidak berkata, "Aku akan memberikan kepada kamu apakah anda memintanya atau tidak." Tanggungjawab kita adalah meminta, mencari, mengetuk. Jadi kita melihat hubungan di antara kasih karunia Allah dan tanggungjawab manusia. Anugerah Allah tersedia secara cuma-cuma tapi kita harus memintanya. Meminta itu tidak selalunya begitu mudah.

Disini, dalam bahasa aslinya, tensanya adalah apa yang dipanggil present continuous tense, yang bermakna bahwa tindakan meminta itu bukan berlangsung hanya satu kali. Present continuous tense bermakna terus menerus meminta dan anda akan menerimanya. Ini berarti terus mencari, mencari sehingga ketemu. Ia juga bermakna terus mengetuk. Ketuk, ketuk, ketuk, sehingga pintu terbuka.

Begitu banyak orang Kristen saat mereka berdoa mereka mengetuk satu atau dua kali. Ketuk, ketuk. Tidak ada bunyi. "Baiklah, Ia tidak mau membuka pintu." Jadi kita pergi. Seluruh pokok ajaran Tuhan adalah ini: Terus mengetuk sehingga anda menerima. Apakah anda berpikir Allah tidak ada di rumah? Tentu saja, jika anda berpikir bahwa Ia tidak di rumah, anda akan pergi. "Saya sudah mengetuk beberapa kali dan pintu tidak dibuka, jadi pasti Ia tidak di rumah, lalu saya pergi". Tapi Allah selalu di rumah. Ia selalu ada disitu. Jadi jika anda tahu bahwa apa yang anda minta itu adalah sesuatu yang memuliakanNya dan memberkati gereja, teruslah ketuk sehingga anda menerimanya. Prinsip ini begitu penting dan Tuhan Yesus memberikan beberapa perumpamaan justru untuk mengilustrasikan pokok ini. Kita akan kembali ke perumpamaan ini di waktu yang akan datang. Anda mungkin berkata, "Mengapa Allah membutuhkan kita untuk terus meminta, meminta sehingga Ia memberikannya?" Bila seorang anak kecil terus meminta sesuatu, anda akan merasa agak jengkel. "Jangan terus meminta. Kamu telah memintanya tadi. Mengapa terus meminta? Saya tidak tuli, saya sudah mendengarnya." Kita merasa agak jengkel karena ia meminta terus menerus. Tapi apabila kita melihat ke dalam Alkitab, sangatlah luar biasa. Caranya Allah bukan cara kita. Justru cara Allah berlawanan dengan cara kita. Ia begitu mengasihi orang yang tidak pernah menyerah, yang gigih - orang-orang yang bagi kita menjengkelkan inilah yang dikasihi Allah. Mereka menerima kasih karuniaNya. Bila anda mempelajari perumpamaan Tuhan, anda akan melihat hal ini.

Saya baru saja memberitahu salah seorang saudara bahwa studi akan perumpamaan merupakan satu proses reformasi pikiran karena anda akan belajar untuk memikirkan pikiran Allah, dan pikirannya sangat berbeda dari pikiran kita. Itulah alasan mengapa ada orang yang menemukan ajaran Tuhan Yesus begitu sulit untuk dipahami, terutamanya perumpamaan. Cara Allah berpikir begitu berbeda dari cara kita berpikir. Jika anda mau menerima dari Allah, anda harus terus meminta, meminta sehingga anda menerimanya. Jangan menyerah sebelum anda menerima. Bagaimana Yakub menjadi Israel? Yakub bergulat dengan malaikat Tuhan sepanjang malam. Sepanjang malam ia berkata kepada Tuhan, "Berkatilah aku, berkatilah aku. Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu memberkati aku." Anda mungkin berkata, 'Betapa beraninya Yakub menangani malaikat Tuhan dalam cara ini. Ia tidak menjawab, dan anda terus berpegang kepadanya dan berkata, "Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu memberkati aku."' Wah, sangat tidak tahu malu orang ini! Orang ini bahkan tidak punya sedikit kesopanan. Dengan manusia anda tidak akan berbuat ini, lalu bagaimana anda bisa menangani seorang malaikat Allah dalam cara ini? Mengapa Allah tidak langsung memberkati dia dan berkata, "Okelah, Aku berkatilah kamu. Pergilah. Aku sudah memberkati kamu" Seperti seorang anak kecil yang terus menerus menganggu anda setiap waktu, mengapa tidak berikan kepadanya apa yang ia minta agar ia pergi? Namun, Allah tidak berpikir dengan cara ini. Ia mengasihi orang yang tidak menyerah, yang terus menerus meminta. Dan pada akhirnya, malaikat Tuhan berkata, "Kamu sudah menang di atas Allah, dan dari sekarang, namamu adalah Israel." Saya begitu berharap orang Kristen akan belajar prinsip ini. Anda bertekun sehingga anda menerimanya. Ingatkah anda tentang perempuan Sirofenesia yang terus berkata, "Sembuhkan anakku. Sembuhkan anakku," sehingga para murid berkata, "Mengapa Engkau tidak menyuruh dia pergi? Ia mengganggu dan menjengkelkan kita." Apakah perempuan ini menjengkelkan Tuhan Yesus? Tidak. Ia menjengkelkan murid-muridNya, tapi Tuhan Yesus tidak terganggu. Tuhan mengasihi dia. Tuhan berkata, "O perempuan, besar imanmu, Jadilah seperti yang telah kamu minta."

Ada kalanya, kita merupakan orang yang maukan segala sesuatu secara instan. Tuhan, berikan kepada saya di waktu ini juga. Di waktu ini juga. Tapi Tuhan mau melihat sejauh mana kita sesungguhnya menghendakinya. Harga yang setinggi mana yang sanggup kita bayar untuk memperolehnya? Ia sedang melatih kita lewat permintaan kita, dengan gigih secara terus menerus meminta. Bukan dengan cara yang mudah, hanya dengan sekali meminta dan anda mendapatkannya. Ia menghendaki orang yang bertahan hingga ke akhirnya, orang yang dapat bertahan sampai ke akhirnya.

Perhatikan keindahan ayat 7 di fasal 7 buku Matius. Kita sudah melihat begitu banyak kekayaan di dalam ayat yang indah ini. Dalam nas aslinya, ayat ini mengandungi sebelas perkataan. Tapi seperti permata indah mengungkapkan kebenaran, seperti intan yang dipotong dari pelbagai sudut yang berbeda dalam memancarkan terangnya, kekayaan maknanya dapat dilihat dari pelbagai sudut. Pertimbangkanlah ini, apakah yang terjadi apabila anda mencari jalan menuju ke tempat tertentu. Pertama, anda akan menanyakan jalannya. Dan setelah menerima informasi tentang arahnya, anda akan mencarinya. Dan setelah tempat itu ditemukan, apa yang anda lakukan? Anda mengetuk pintunya agar dapat masuk. Bukankah sangat indah gambaran ini? Inilah persis urutan kata-kata Tuhan Yesus di ayat ini. Minta, cari dan ketuk. Di Matius 2, ketika orang-orang magus mencari Yesus, anda akan menemukan urutan yang sama disitu. Di ayat 2, dikatakan mereka bertanya dimanakah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Di ayat 8, setelah bertanya, mereka pergi dan mencari. Di ayat 11, mereka menemukan dan setelah mereka menemukan, mereka mengetuk dan masuk. Itulah hukum orang Yahudi, anda tidak masuk pintu tanpa terlebih dahulu mengetuk. Jadi Tuhan Yesus sedang berkata bahwa sama seperti orang-orang majus mencari Tuhan Yesus dan Raja Kerajaan, jadi kita juga mencari. Kita meminta, mencari dan mengetuk agar kita dapat masuk.

Tentu saja, motif kita meminta, mencari dan mengetuk itu sangatlah penting. Kita menemukan di Matius 2 bahwa Herod juga bertanya di manakah Mesias akan dilahirkan. Ia juga mencari. Ia juga sedang mencari, tapi motifnya salah. Oleh karena itu, ia tidak menemukannya. Jadi kita melihat bahwa motif, alasan mengapa kita meminta sesuatu dari Tuhan itu sangatlah penting. Allah melihat hati kita. Jadi, sekali lagi inilah tanggungjawab kita dalam kasih karunia Allah. Kita mau mencari Tuhan Yesus, mencari Kerajaan Allah. Namun terdapat tiga hal yang harus kita lakukan di pihak kita. Ada tanggungjawab di pihak kita. Apabila anda meminta, anda menggunakan mulut. Apabila anda mencari, anda menggunakan mata. Apabila anda mengetuk, anda menggunakan tangan. Ini mewakili seluruh pribadi, maka seluruh keberadaan terlibat dalam mencari Kerajaan Allah. Jadi mencari Tuhan dengan segenap jiwa, akal budi dan kekuatan.

Tentu saja, sebagaimana yang telah kita lihat, hal mencari berhubungan dengan ayat-ayat yang sebelumnya dan juga ayat-ayat yang sesudahnya. Ia berhubungan dengan hal tentang mencari kerajaan Allah. Carilah KerajaanNya dan kebenaranNya dan dalam melakukan itu, tentu saja kita sedang mencari hidup kekal dalam Allah. Dan setelah kita tiba, apakah yang kita lakukan? Kita mengetuk di pintu gerbang hidup kekal. Disini anda melihat hubungan yang menakjubkan langsung setelah perikop ini di ayat 14. Karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan bagi mereka yang menemukannya. Jadi kita melihat bahwa dalam meminta, mencari dan mengetuk, semua bentuk dasar kegiatan manusia terlibat. Seluruh keberadaan kita terlibat. Apabila anda mau mencari hidup, anda tidak hanya mencari dengan sebagian dari keberadaan anda. Pencarian akan Tuhan dapat diwakili dengan kata-kata, "dengan segenap jiwa, akal budi, kekuatan".

Marilah kita pertimbangkan tentang hal mengetuk. Kita sudah panjang lebar berbicara mengenai meminta dan kita juga sudah sedikit menyentuh tentang mencari. Dalam berbicara mengenai pengalaman rohani. Nat ini dalam bahasa aslinya, terdapat bentuk tatabahasa yang disebut "divine passive", yaitu kalimat, "mintalah maka akan diberikan". "Akan diberikan" adalah bentuk pasif. Dalam Alkitab, bentuk kalimat yang bersifat pasif ini yaitu "akan diberikan", selalu bermakna bahwa Allah akan memberi. Bentuk kalimat yang disebut "divine passive" ini bermakna Allahlah yang akan melakukannya. Jadi dikatakan, "ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu", ini bermakna Allah akan membukanya. Allah akan membuka pintu itu. Ini tentu saja bermakna apabila anda meminta dan Allah menjawab, anda mengalami satu pengalaman rohani, anda mengalami sesuatu yang dilakukan Allah.

Banyak orang berkata kepada saya, "Saya akan menjadi orang Kristen yang jauh lebih kuat jika saya mengalami pengalaman rohani yang anda miliki. Anda selalu membagikan pengalaman rohani, jika saya memiliki pengalaman rohani yang anda miliki, saya juga akan mempunyai kekuatan dan iman rohani yang sama dengan anda." Tapi, saudara yang terkasih, tidak ada orang yang langsung begitu saja mengalami pengalaman rohani yang sedemikian. Bagaimana anda mendapatkan pengalaman rohani yang sedemikian? Tuhan Yesus sedang memberitahu kita di sini. Tidak ada misteri. Sangat sederhana. Bagaimana saya mengalami hal-hal indah yang Allah berikan kepada saya? Karena saya memintanya. Bagaimana saya menemukan kekayaan rohani dalam Allah? Karena saya mencari. Bagaimana saya masuk ke dalam pengalaman hidup yang baru? Dengan mengetuk pada pintu itu. Anda tidak mempunyai karena anda tidak meminta. Anda tidak menemukan karena anda tidak mencari. Anda tidak masuk karena anda tidak mengetuk dan oleh karena itu pintu tidak dibuka bagimu.

Ingatlah selalu bahwa kasih karunia Allah tersedia untuk diberikan kepada anda, mengapa anda tidak meminta? Itulah sebabnya mengapa begitu banyak orang Kristen hidup dalam kemiskinan rohani karena mereka tidak masuk dengan iman, melangkah masuk untuk meminta, seperti Yakub, "Tuhan, berkatilah saya O Tuhan dengan berkat rohani. Saya tidak mempunyai kekuatan. Saya lemah." Mintalah dari Allah. Kuasa Allah tersedia bagi anda. Jangan membuang waktu, apa lagi yang ditunggu anda? Jika anda belum selamat, apa lagi yang anda tunggu? Allah bersedia untuk menyelamatkan anda, anda hanya perlu meminta. Tapi Allah tidak akan memaksa anda. "Mintalah dan ia akan diberikan kepada anda." Apakah ini tidak cukup untuk menyakinkan anda? Apakah anda berpikir bahwa Tuhan sedang berdusta? Baiklah, anda boleh mengujinya untuk melihat apakah Ia berdusta. Banyak orang Kristen berkata, "Allah tidak nyata bagi saya." Nah, bagaimana Ia akan menjadi nyata kepada anda melainkan anda meminta, anda mencari dan anda mengetuk. Bagaimana Ia menjadi nyata bagi anda? Ia tidak akan menjadi nyata bagi anda melainkan anda bertemu dengan Dia. Dan bagaimana anda akan bertemu dengan seseorang melainkan anda pergi, anda mencari tempatnya, anda mencari alamatnya dan anda mengetuk di pintunya. Dan apabila ia membuka pintu, anda berkata, "Ah, sekarang saya sudah bertemu dengan anda." Jika tidak, bagaimana anda akan bertemu dengannya? Jadi, mengapa orang berkata kepada saya, "Mengapa Allah begitu nyata bagi anda dan Ia tidak nyata bagi saya?" Tuhan tidak memberikan kepada saya suatu rahasia yang tidak Ia berikan kepada anda. Semuanya sudah tercatat di sini. Satu ayat yang begitu bernilai di ayat 11 dalam bahasa Yunani. Perhatikan bahwa Ia mempertaruhkan seluruh reputasi pada ayat tersebut. Ia menantang anda. "Aku akan memberikan kepada kamu." Mintalah. Ujilah Aku dan lihatlah. Saya sering berkata, bahwa bukan Allah yang takut dengan tantangan. Kitalah yang takut untuk menerima tantanganNya. Jadi, Ia mengundang kita untuk datang kepadaNya. Datanglah kepada Aku, tanyalah jalanNya. Carilah jalannya, ketuklah pada pintunya dan anda akan bertemu dengan Aku. Tapi Ia tidak pernah berkata ini hal yang mudah, memang terdapat tiga hal yang perlu dilakukan. Tapi jika anda siap untuk bertekun, jika anda siap untuk membayar harga yang tidak seberapa itu, tidak kira apa harganya, maka kita akan bertemu dengan Dia, mengalami satu pengalaman yang hidup dengan Allah.

Dan akhirnya, dikatakan di sini, "Ketuklah pada pintu." Dan tentu saja Gereja Allah digambarkan sebagai satu bangunan. Jadi di akhir jalan tersebut, di akhir permintaan, pencarian, kita pada akhirnya tiba ke kediaman Allah, di GerejaNya. Itulah alasan mengapa Tuhan Yesus berkata, "Aku akan membangunkan gerejaKu dan kuncinya Aku berikan kepada hamba-hambaKu." Anda melihat seluruh hal ini dilukiskan sebagai bangunan, di mana anda tiba ke pintu gerbang, kepada pintu, dan anda mengetuk pada pintu itu. Setelah anda masuk, terdapat kamar-kamar yang berbeda-beda. Di rumah BapaKu, terdapat banyak kamar. Anda harus mengetuk pada pintu yang tepat. Jadi sekarang, kita melihat seluruh nilai ajaran Tuhan Yesus. Ia telah mengundang kita untuk datang dan bertemu dengan Dia, asalkan kita siap untuk melakukan tiga hal ini, dan melakukan dengan penuh ketekunan. Saya telah menguji Firman ini, dan telah membuktikan bahwa ia benar. Ujilah untuk mengetahui kebenaran Firman ini. Saya tidak akan dapat memberitakan Firman Allah dengan penuh keyakinan melainkan saya telah membuktikan dalam pengalaman saya sendiri dan menemukan bahwa ia benar. Dalam memberitakan Firman Allah, saya tidak memberitakannya dari pengetahuan theologia. Saya tidak berkotbah semata-mata dari pengetahuan Alkitab. Saya memberitakannya dari satu keyakinan yang berapi-api dari hati saya bahwa setiap kata yang diucapkan oleh Tuhan Yesus adalah benar. Mintalah, dan ia akan diberikan kepadamu. Anda tidak perlu keluar dari pertemuan hari ini dan berkata, "Baiklah, saya tidak tahu bagaimana harus bertemu dengan Allah. Saya tidak tahu bagaimana untuk mempunyai pengalaman rohani." Firman dari ayat ini akan memberikan kita jawabannya.

Sebagai kesimpulan, saya mau membagikan tentang kunjungan saya ke Trent satu setengah tahun yang lalu. Beberapa di antara kalian tahu bahwa saya berhadapan dengan suatu masalah, dan terdapat saat-saat kritis di mana saya nyaris tidak dapat ke konferensi di Trent tersebut. Beberapa di antara kalian juga tahu bahwa Allah membuka jalan untuk saya pergi tapi kebanyakan dari kalian tidak tahu bagaimana Allah melakukannya. Apa yang terjadi adalah, sekitar setahun yang lalu, Komite Kamp Trent mengundang saya untuk berbicara di konferensi tersebut. Di Konsular Kanada, Wakil Konsulnya memberi jaminan kepada saya bahwa tidak akan ada masalah visa dengan perjalanan saya ke Kanada untuk berbicara di Kamp Trent, jadi saya tidak perlu jauh, jauh hari memasukkan permohonan untuk visa. Jadi seminggu sebelum Konferensi itu saya ke Konsular Kanada untuk mengambil visa saya dan kali ini saya menghadap pegawai yang lain. Dan ia memberitahu saya bahwa ia tidak dapat langsung memberikan visa kepada saya. Saya memberitahunya bahwa Wakil Konsul sudah memberitahu saya bahwa visa dapat langsung diberikan kepada saya. Tapi menurut pegawai tersebut, itu satu kekeliruan dan saya harus terlebih dahulu membuat permohonan ke Ottawa. Itu sudah hari Jumat, satu minggu sebelum Kamp Trent, sekitar 6 hari sebelum konferensi itu. Dan saya perlu tiba ke Trent pada malam Kamis. Dan tentu saja, pada hari Jumat, kantor pemerintah akan tutup. Lalu saya berkata, "Terdapat satu konferensi di Trent, di mana beberapa ratus orang menunggu untuk mendengarkan Firman Allah. Apakah anda memberitahu saya bahwa saya tidak akan diberikan visa untuk pergi ke sana?" Saya melanjutkan, "Kira-kiranya apa yang akan dikatakan oleh panitia kamp? Dari mana mereka akan mencari pembicara lain? Apakah 6 hari waktu yang cukup untuk mencari pembicara yang baru?" Pegawai itu berkata, "Ini di luar kekuasaan saya. Wakil Konsul sudah membuat kekeliruan. Saya minta maaf atas kekeliruannya tapi saya tidak mempunyai otoritas untuk memberikan kepada anda visa tersebut." Saya bertanya, "Apa yang dapat anda lakukan?" Ia menjawab, "Saya dapat mengirim surat kawat langsung ke Ottawa, tapi dalam pengalaman saya bekerja di konsular, hal itu membutuhkan beberapa hari dan jawabannya tidak akan tiba tepat waktu." Jadi ia bertanya, "Apakah anda mau saya mengirimkan surat kawat tersebut, walaupun saya dapat memberitahu anda bahwa jawabannya tidak akan tiba sebelum anda dijadwalkan berangkat? "

Walaupun waktu itu sudah akhir pekan dan tidak ada orang di kantor, saya berkata kepadanya, "Kirimlah surat kawat tersebut." Bayangkan perasaan saya sewaktu saya meninggalkan kantor consular itu. Sekalipun ini bukan kekeliruan saya, tapi seluruh rencana untuk kamp macet. Saya berpikir, "Apa yang akan dilakukan oleh panitia kamp?" Jika saya tidak pergi, saya tidak rugi apa-apa. Tapi bagaimana dengan orang-orang di sana?" Saya pulang dan mengajak istri saya sama-sama berlutut berdoa kepada Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Saya harus berangkat pada hari Rabu agar dapat tiba pada hari Kamis di Trent. Bagaimana mungkin untuk menerima visa pada hari Rabu agar tidak terlambat? Apa yang saya lakukan? Saya pergi kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, Engkaulah Allah. Di ayat ini, dikatakan, 'Mintalah, dan kamu akan menerima'. Apa yang saya minta murni untuk kemuliaan Allah, murni untuk GerejaNya. Saya sama sekali tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam hal ini. Saya datang di hadapan Tuhan dan berkata, "Saya akan meminta sesuatu yang sangat, sangat khusus dan saya tahu Engkau akan dan Engkau dapat melakukannya." Jadi saya menuliskan satu program kerja yang sangat sederhana. Agar dapat berangkat pada hari Rabu, saya harus mendapatkan visa pada hari Selasa. Agar visa itu dapat tiba ke Inggris pada hari Selasa, maka ia harus diproses di Ottawa pada hari Senin langsung setelah ia tiba dari Inggris. Kalian yang mengenal cara kerja kantor pemerintah akan tahu bahwa hal-hal ini sama sekali tidak mungkin! Bagaimanapun saya bertekad untuk meminta sesuatu yang tidak mungkin. Kantor di Ottawa itu harus menangani surat kawat yang dikirim dari kantor konsular di seluruh dunia, bukan hanya dari kantor konsular di Inggris. Bagaimana mungkin saya mengharapkan visa saya diproses langsung setelah diterima dan dikirim kembali ke Inggris pada hari yang sama? Saya meminta pada Tuhan dengan berkata, "Tuhan, surat kawat dari Ottawa tiba ke Manchester pada hari Selasa dan saya mendapatnya pada hari Selasa juga. Pada hari Rabu, saya sudah di pesawat. Tuhan, tolonglah." Memandang kembali, sepertinya sangat sederhana.

Pada hari Sabtu, saya berjalan-jalan di taman bersama Helen dan saya berkata kepadanya, "Anda akan menjadi saksi saya tentang apa yang akan dikerjakan oleh Allah. Jika saya memberitahu anda setelah peristiwa ini terjadi, bahwa saya mendoakan hal ini, maka anda tidak akan mempunyai bukti selain dari kata-kata saya. Jadi saya mau memberitahu anda sebelum jawaban doa itu terkabul, apa yang telah saya doakan. Saya bukan sekedar mendoakan hal ini tapi saya sepenuhnya yakin bahwa doa ini akan terjawab dan andalah yang menjadi saksi saya bahwa saya memberitahu anda hal ini beberapa hal sebelum ia terkabul." Segala sesuatu terjadi persis seperti yang saya minta dari Tuhan dan Ia mengabulkannya persis dalam cara yang saya minta. Pada hari Selasa, saya mendapatkan visa dan membeli tiket pesawat. Pada hari Rabu, saya sudah di atas pesawat dalam perjalanan ke Kanada. Anda harus melihat wajah-wajah terkejut pegawai-pegawai di kantor konsular. Tidak terlintas di pikiran mereka bahwa keputusan dari kantor Ottawa tiba dengan begitu cepat.

Saya dapat membagikan begitu banyak pengalaman tentang jawaban doa dari Allah tapi semuanya itu bermula dengan meminta, mencari dan mengetuk. Saya menjadi seorang Kristen ketika saya duduk di halaman penjara Komunis dan meminta bantuan Tuhan dan Ia melakukannya. Saya meminta dan Ia menjawab, dan Ia menjawab dengan begitu cepat! Suatu pengalaman yang sangat menakjubkan. Itu berarti bahwa Allah selalu rindu untuk menjawab asalkan anda sudi meminta dan Ia tahu bahwa anda meminta dengan tekun dan tekad. Saudara yang terkasih, saya memohon pada kalian agar kalian mengambil kata-kata Tuhan Yesus dan buktikanlah keabsahannya dalam hidup anda sendiri. Cara untuk mempelajari Alkitab, cara untuk memahami ajaran Tuhan Yesus bukanlah hanya membaca dan mendengar khotbah. Tapi, keluar dan membuktikannya, dan anda akan menemukan, "Ah, Tuhan, sesungguhnya benar. Sangat indah." Dengan cara ini, anda akan tahu bahwa anda sedang berurusan, sedang berbicara dengan Allah yang hidup. Bahwa Bapamu, Ia adalah Allah Surga dan Bumi. Maka hati anda akan dipenuhi oleh sukacita yang berkelimpahan. Persis seperti apa yang Tuhan Yesus katakan kepada para muridNya di Injil Yohanes, "Mintalah, dan anda akan menerimanya agar sukacitamu menjadi penuh."

Mintalah, Maka Akan Diberikan Kepadamu

Matius 7:7 - Khotbah oleh Pastor Eric Chang

Hari ini kita melanjutkan studi sistematis ajaran Tuhan di Matius 7:7. Ayat ini berbunyi seperti berikut: "Berilah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." Agar kita memperoleh seluruh konteksnya kita harus membaca hingga ke ayat 12. "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".

Dari pengupasan firman Matius 7:6 di Khotbah yang lalu, kita melihat bahwa Tuhan Yesus sedang mengajarkan kepada kita tentang jangan memberikan kepada anjing apa yang kudus atau melemparkan mutiara kepada babi. Kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa sifat lama manusia yang dalam keberdosaannya, dalam kejijikannya adalah seperti sifat anjing dan babi. Kita melihat bahwa manusia duniawi tidak menerima hal-hal dari Allah. Dari Khotbah tersebut kita juga melihat bahwa Allah tidak pernah memaksa ke atas kita InjilNya, kebenaranNya yang luar biasa dan ajaib itu. Dalam hubungan dengan hal ini, saya ingin mengatakan satu hal yang lain. Gereja mula-mula, yaitu bapa-bapa Rasuli di abad pertama, menggunakan ayat ini untuk menunjukkan bahwa barangsiapa yang belum dibaptis, tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Dalam karya yang sangat penting yang disebut "The Didache", yaitu ajaran-ajaran bapa-bapa Rasuli, dikatakan bahwa tidak seorangpun yang belum dibaptis diizinkan untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus atas alasan bahwa benda-benda kudus tidak diberikan kepada anjing. Yakni, barangsiapa yang belum, melalui proses iman dan baptisan, menjadi manusia baru. Ini menunjukkan bahwa bapa-bapa Rasuli juga melihat bahwa anjing mewakili manusia lama dalam sifat lamanya.

Hari ini, bukan saja dalam pokok ini tetapi dalam begitu banyak pokok yang lain, gereja tidak tahu tentang ajaran Firman Allah. Orang diizinkan untuk mengambil bagian dalam Perjamuan padahal belum pernah dibaptis, karena adalah jelas bahwa para pengajar di gereja hari ini sepertinya tidak memahami arti Perjamuan Kudus. Dan apabila orang datang kepada saya, yang belum dibaptis dan bertanya apakah mereka boleh mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus dan saya berkata, "Tidak". Mereka kaget. Mereka pikir, "Semua pendeta di gereja lain mengizinkannya. Mengapa anda tidak mengijinkannya?" Sepertinya saya menonjol di angkatan ini sebagai seorang yang aneh, bukan karena saya menghendakinya, bukan karena saya mau berbeda, tapi karena Firman Allah mengajarkan dengan cara ini. Mengapa orang tidak melihatnya?" Apakah saya kehilangan sesuatu jika saya mengizinkan orang yang belum dibaptis untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus. Saya bisa saja berkata, "Ya, silahkan." Saya berkata "tidak" demi orang tersebut, bukan demi diri saya karena seperti nats yang dibacakan setiap kali Perjamuan Kudus diadakan, "barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan". Orang itulah yang bermasalah nanti, bukan saya. Ada kalanya apabila saya memikirkan kata-kata Paulus, "Jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?" Hal ini saya katakan demi kebaikan anda, bukan demi kebaikan saya sendiri. Mengapa anda harus kurang mengasihi saya karena saya menyatakan sesuatu yang baik untuk diri anda? Tapi sebagaimana yang telah kita lihat di Khotbah yang lalu, terdapat orang yang tidak terlalu mempedulikan kebenaran. Mereka tidak mau mendengarkan kebenaran. Mereka tidak mau bersusah payah menyelidiki kebenaran, jadi mereka tidak senang mendengar hal ini. Tapi ada kalanya, saya juga tidak dapat menyalahkan orang-orang ini karena pendeta-pendeta lain menyatakan ini dan saya menyatakan sesuatu yang berbeda, jadi sepertinya saya seorang melawan mayoritas. Adalah sesuatu yang sangat menyedihkan bahwa di angkatan ini, di hari dan jaman ini, terdapat begitu banyak ketidak-tahuan akan Firman Allah. Saya tidak ingin menyerang pendeta-pendeta yang lain, tapi pergilah dan tanyalah pendeta yang kalian kenal. Mintalah mereka untuk menguraikan kepada anda arti Perjamuan Kudus. Tanyalah mereka apa arti Perjamuan Kudus. Saya mau meminta kalian untuk mencari tahu berapa dari mereka yang dapat menguraikan kepada anda apa sesungguhnya arti Perjamuan Kudus. Dan bukan hanya memberitahu anda bahwa ia adalah semacam peringatan. Yang sering kita dengarkan sekarang adalah bahwa Perjamuan Kudus adalah semacam peringatan. Jika ia hanya semacam peringatan, bagaimana anda dapat berdosa terhadap tubuh dan darah Kristus? Kemukakan pertanyaan ini dan apabila anda sudah menyelidiki sampai ke akar persoalan, putuskanlah siapa yang menyatakan kebenaran.

Harinya akan tiba di mana anda harus mencari kebenaran sekalipun kebenaran itu akan membuat orang lain tersinggung. Seperti yang saya katakan tadi, ajaran tentang Perjamuan Kudus adalah satu prinsip yang diajarkan oleh para bapa Rasuli di gereja mula-mula. Hal ini bukan sesuatu yang saya ciptakan di abad ke-20. Saya dapat memberitahu anda bahwa segala sesuatu yang saya ajarkan dapat dibuktikan bukan hanya dari Firman Allah tapi juga dari ajaran gereja mula-mula dan para bapa Rasuli. Sayangnya, hari ini banyak orang yang tidak familiar dengan ajaran para bapa Rasuli, apa tah lagi ajaran Kitab Suci. Kita harus kembali ke Firman Allah. Persoalan apakah kita populer atau tidak, tidaklah penting. Tuhan Yesus berkata bahwa apa yang dibutuhkan dari seorang hamba adalah bahwa ia setia. Hal inilah yang paling penting.

Sekarang marilah kita buka ke Matius 7:7. Terkandung begitu banyak kekayaan di perikop ini dan saya kira kita tidak dapat meliputi lebih dari satu ayat hari ini. Apa kaitan ayat ini dengan ayat-ayat yang sebelumnya? Dua hal: Pertama, bila anda melihat ke dalam ajaran Tuhan di Kotbah di Bukit sejauh ini, anda akan melihat bahwa standar yang ditetapkan sangatlah tinggi, lalu pertanyaannya adalah: dapatkah anda mencapai standar yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus? Di gereja masa kini, satu lagi hal yang tidak diajarkan adalah tanggungjawab kita. Kita secara terus menerus diberitahu tentang apa yang Allah kerjakan dan Allah mengerjakan segala sesuatu dan dianggapkan bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa pun. Allah mengerjakan segala sesuatu dan kita tidak mengerjakan apa-apapun. Itulah alasan mengapa adalah sangat penting untuk mempelajari Khotbah di Bukit. Firman-firman ini ditujukan kepada kita. Ia memberitahu kita apa yang harus kita lakukan, apa tanggungjawab kita di hadapan Allah. Tapi bila kita melihat tanggungjawab tersebut, kita hanya dapat menyerah dan berkata, "Tuhan, bagaimana saya dapat mencapai standar tersebut? Dengan kekuatan saya sendiri, dengan hikmat saya, saya tidak dapat menjalani kehidupan yang sebegini." Apabila anda mulai melihat itu, anda sudah dalam perjalanan menjadi seorang Kristen yang sejati.

Hari ini gereja begitu penuh dengan orang Kristen yang berpikir bahwa mereka dapat menjalani kehidupan mereka sebagaimana mereka mau dan mereka masih tetap akan diselamatkan. Tuhan Yesus berkata, "Kamu harus mengasihi Tuhan AllahMu dengan segenap hatimu dan mengasihi sesama seperti dirimu sendiri", dan mereka hanya mengasihi diri mereka sendiri dan mereka masih berpikir, "Saya percaya pada Yesus, saya akan diselamatkan tidak kira apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, saya masih tetap akan diselamatkan." Apa yang Yesus ajarkan tidak penting, apa yang penting adalah apa yang dikatakan oleh penginjil dan apa yang dikatakan oleh pendeta tapi apa yang dikatakan oleh Yesus tidak sesungguhnya penting. Pendeta itu berkata bahwa selama saya percaya pada Yesus, tidak kira bagaimana kehidupan saya, saya tetap akan diselamatkan sekalipun Yesus berkata yang lain.

Biarlah saya bertanya saudara-saudara, bandingkan apa yang dikatakan oleh para pendeta dan penginjil dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Bandingkan apa yang saya katakan dalam terang apa yang Tuhan Yesus katakan. Lihatlah apakah kami menyatakan hal yang sama, apakah pendeta-pendeta menyatakan hal yang sama dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Jika apa yang saya katakan tidak sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Firman Allah, maka saya seorang pendusta dan setiap orang mempunyai hak untuk mengumumkan bahwa saya seorang pendusta. Tuhan Yesus berkata, "kasihilah musuhmu, bukan hanya sesama." Berapa banyak orang Kristen yang dapat mengasihi saudara-saudara dalam gereja, belum lagi musuh mereka? Tuhan Yesus berkata, "carilah dulu kerajaan Allah dan segala sesuatu", hal-hal materil "akan ditambahkan kepadamu." Berapa banyak orang Kristen yang dapat dengan jujur dan dengan hati nurani yang murni berkata bahwa hal pertama yang mereka cari di dunia ini dan di hidup ini adalah kerajaan Allah dan kebenaranNya? Namun orang-orang yang sama, yang tidak mencari dulu Kerajaan Allah, diberikan jaminan oleh banyak pendeta bahwa selama mereka percaya pada Yesus, mereka akan diselamatkan. Jadi kita harus terus menerus membandingkan pemikiran kita dan apa yang dikatakan oleh orang dengan apa yang diajarkan oleh Yesus.

Di akhir Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus berkata, "Pada hari terakhir", yaitu pada hari Penghakiman, "banyak yang akan berkata kepada Aku, 'Tuhan, Tuhan, tidakkah kami melakukan ini dan itu dalam namamu?" Dalam namaNya? Tapi Tuhan berkata, "Aku tidak mengenal kamu. Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan." Kira-kiranya berapa banyak orang yang akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, Tuhan, itulah apa yang diajarkan pendeta kepada saya, itulah yang diajarkan oleh penginjil itu kepada saya. Ia berkata bahwa yang perlu dilakukan hanyalah percaya dalam nama Yesus. Saya percaya dalam nama Engkau. Apakah salahku?" Tuhan Yesus berkata, "Hanya dia yang melakukan kehendak BapaKu di surga, hanya orang yang sedemikian yang masuk ke dalam kerajaan." Melainkan iman sejati itu diungkapkan dalam tindakan, dalam melakukan kehendak Bapa, jika tidak iman itu tidak akan menyelamatkan sesiapapun.

Dan juga karena alasan bahwa orang tidak pernah diberitahu tentang tanggungjawab mereka maka tidak ada ketergantungan pada Allah yang seharusnya dimiliki setiap orang Kristen. Apakah setiap hari anda hidup bergantung pada Allah, berkata kepadaNya, "Tuhan, saya lemah. Saya tidak mempunyai kekuatan. Berikan kekuatan yang saya butuhkan, saya memohon pada Engkau." Itulah alasan mengapa saya berkata tadi bahwa jika anda merasa lemah dan kekurangan dan karena itu anda secara terus menerus bergantung pada Allah, maka anda sudah dalam proses menjadi seorang Kristen yang sejati. Inilah alasan mengapa di akhir Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus berkata, "Mintalah, maka kamu akan menerima." Aku tahu bahwa anda tidak memiliki kekuatan. Aku tahu bahwa anda tidak punya kuasa, tapi mintalah dan anda akan memilikinya". Jika kata-kata itu tidak Tuhan Yesus katakan di akhir Khotbah di Bukit, saya kira kita semua dalam keadaan tanpa harapan. Karena bila kita memandang pada standar yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus, tidak ada perasaan lain melainkan perasaan keputus-asaan. "Aku begitu egois, aku begitu lemah. Bagaimana aku dapat mengasihi, mengasihi dengan cara Engkau? Aku begitu lemah bila aku melihat hal-hal menarik di dunia ini. Ah! Dunia melambai-lambai kepadaku. Dunia menarik aku. Tuhan, bagaimana aku dapat menjalani kehidupan mencari dahulu KerajaanMu, melainkan Engkau memberikan aku kekuatan." Tapi di sini, di akhir Khotbah di Bukit, Tuhan memberikan kita pengharapan dan kekuatan yang kita butuhkan. Ia menjanjikan kepada kita segala sesuatu yang kita perlukan dalam mengikuti jalan melakukan kehendak Bapa. Ia berkata, "segala sesuatu yang baik akan diberikan kepadamu." Segala sesuatu yang anda perlukan akan diberikan kepadamu. Dan apakah hal-hal yang baik itu? Bila anda bandingkan dengan Injil Lukas, anda akan menemukan bahwa Ia secara khusus menunjuk kepada Roh Kudus. Roh Kudus adalah Allah Sendiri. Dan apabila anda mempunyai Allah, anda mempunyai segala sesuatu. Justru inilah pokoknya menjadi Kristen, yaitu memiliki Allah. Apabila anda memiliki Allah, anda memiliki hidup kekal. Anda tidak akan pernah memiliki hidup kekal di luar Allah. Anda tidak dapat memiliki hidup kekal sebagai sesuatu yang terpisah dari Allah. Ini hidup kekal dan Allah di sebelah sana. Hidup kekal adalah kehidupan Allah Sendiri. Oleh karena itu, apabila anda punya Allah, barulah anda memiliki hidup kekal. Apabila anda mempunyai Yesus, anda mempunyai hidup kekal. Jika anda tidak mempunyai Tuhan Yesus dalam hidup anda, anda tidak mempunyai hidup kekal. Jadi kita melihat bahwa alasan pertama Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang meminta disini adalah justru karena, di akhir Khotbah di Bukit, kita membutuhkan kekuatan untuk menjalani kehidupan yang merupakan panggilan surgawiNya bagi kita.

Alasan kedua adalah prinsip hubungan Allah dengan kita, yaitu prinsip dalam doa. Anda telah perhatikan, sebagai contoh, di Khotbah yang lalu tentang ajaran Tuhan di ayat 6, bahwa Allah tidak pernah memaksakan anugerahNya ke atas kita. Itu berarti, jika anda tidak memintanya, anda tidak memperoleh. Itu berarti, jika anda bukan seorang Kristen, dan jika anda tidak meminta keselamatan yang dari Allah, Allah tidak akan mengambil keselamatanNya dan melemparkan kepada anda. Tidak, anda tidak akan pernah memperolehnya. Prinsip yang sama ini berlaku bagi orang Kristen juga. Rasul Yakobus berkata di Yakobus 4:2-3 dan ia sedang berbicara kepada orang Kristen, "Kamu tidak menerima karena kamu tidak meminta", dan di ayat 3 ia berkata, "Kamu meminta dan kamu tidak memperoleh karena kamu meminta hal yang salah, karena anda meminta untuk memuaskan hawa nafsumu." Sekarang pertimbangkan ini, banyak orang Kristen tidak mempunyai karunia-karunia rohani yang tertentu. Pernahkah terlintas di pikiran anda bahwa anda tidak memperoleh karena anda tidak meminta? Mungkin anda melihat seorang saudara lain di gereja dan anda berkata, "Mengapa ia mempunyai begitu banyak karunia yang dapat dipakai Allah?" Pernahkah terlintas di benak anda untuk meminta hal-hal tersebut? Apa saja yang anda inginkan atau butuhkan dalam pekerjaan Allah, yang akan dipakai untuk kemuliaan Allah dan bagi pembangunan Gereja, anda boleh meminta dengan keyakinan bahwa anda akan menerima, selama anda meminta bukan untuk memuaskan hawa nafsumu. Bila Tuhan Yesus berkata, "Mintalah dan kamu akan menerima", dalam konteks ini, ia tidak berkata bahwa anda meminta mobil, dan anda akan menerima mobil. Minta mobil BMW, dan anda akan memperoleh mobil BMW. Jadi jika anda hanya meminta mobil kecil, maka anda rugi, mengapa tidak minta mobil besar!?

Jadi kita dapat melihat bahwa apabila Tuhan berbicara mengenai meminta, Ia berkata anda mungkin akan meminta benda-benda untuk memuaskan hawa nafsu dan ketamakan anda. Prinsip yang penting adalah ini: Jika anda meminta sesuatu yang bersifat rohani, dan Allah dimuliakan dan membawa manfaat bagi gereja, maka anda dapat meminta dengan keyakinan bahwa anda akan memperolehnya. Di sini kita juga melihat begitu banyak kekayaan yang terkandung di dalam satu kalimat ajaran Tuhan. Dalam satu ayat ini, seluruh prinsip hubungan Tuhan dengan kita didefinisikan dengan jelas. Allah berkata, "mintalah, anda akan menerima", fakta bahwa anda akan menerima, bahwa Ia memberikan kepada anda, itu adalah kasih anugerahNya Sendiri. Ia memberikan kepada anda dengan cuma-cuma saat anda memintanya. Disini kita melihat, di satu sisi anugerah Allah bahwa Ia memberikan cuma-cuma kepada mereka yang dalam kebutuhan. Tapi perhatikan juga tanggungjawab kita. Ia tidak berkata, "Aku akan memberikan kepada kamu apakah anda memintanya atau tidak." Tanggungjawab kita adalah meminta, mencari, mengetuk. Jadi kita melihat hubungan di antara kasih karunia Allah dan tanggungjawab manusia. Anugerah Allah tersedia secara cuma-cuma tapi kita harus memintanya. Meminta itu tidak selalunya begitu mudah.

Disini, dalam bahasa aslinya, tensanya adalah apa yang dipanggil present continuous tense, yang bermakna bahwa tindakan meminta itu bukan berlangsung hanya satu kali. Present continuous tense bermakna terus menerus meminta dan anda akan menerimanya. Ini berarti terus mencari, mencari sehingga ketemu. Ia juga bermakna terus mengetuk. Ketuk, ketuk, ketuk, sehingga pintu terbuka.

Begitu banyak orang Kristen saat mereka berdoa mereka mengetuk satu atau dua kali. Ketuk, ketuk. Tidak ada bunyi. "Baiklah, Ia tidak mau membuka pintu." Jadi kita pergi. Seluruh pokok ajaran Tuhan adalah ini: Terus mengetuk sehingga anda menerima. Apakah anda berpikir Allah tidak ada di rumah? Tentu saja, jika anda berpikir bahwa Ia tidak di rumah, anda akan pergi. "Saya sudah mengetuk beberapa kali dan pintu tidak dibuka, jadi pasti Ia tidak di rumah, lalu saya pergi". Tapi Allah selalu di rumah. Ia selalu ada disitu. Jadi jika anda tahu bahwa apa yang anda minta itu adalah sesuatu yang memuliakanNya dan memberkati gereja, teruslah ketuk sehingga anda menerimanya. Prinsip ini begitu penting dan Tuhan Yesus memberikan beberapa perumpamaan justru untuk mengilustrasikan pokok ini. Kita akan kembali ke perumpamaan ini di waktu yang akan datang. Anda mungkin berkata, "Mengapa Allah membutuhkan kita untuk terus meminta, meminta sehingga Ia memberikannya?" Bila seorang anak kecil terus meminta sesuatu, anda akan merasa agak jengkel. "Jangan terus meminta. Kamu telah memintanya tadi. Mengapa terus meminta? Saya tidak tuli, saya sudah mendengarnya." Kita merasa agak jengkel karena ia meminta terus menerus. Tapi apabila kita melihat ke dalam Alkitab, sangatlah luar biasa. Caranya Allah bukan cara kita. Justru cara Allah berlawanan dengan cara kita. Ia begitu mengasihi orang yang tidak pernah menyerah, yang gigih - orang-orang yang bagi kita menjengkelkan inilah yang dikasihi Allah. Mereka menerima kasih karuniaNya. Bila anda mempelajari perumpamaan Tuhan, anda akan melihat hal ini.

Saya baru saja memberitahu salah seorang saudara bahwa studi akan perumpamaan merupakan satu proses reformasi pikiran karena anda akan belajar untuk memikirkan pikiran Allah, dan pikirannya sangat berbeda dari pikiran kita. Itulah alasan mengapa ada orang yang menemukan ajaran Tuhan Yesus begitu sulit untuk dipahami, terutamanya perumpamaan. Cara Allah berpikir begitu berbeda dari cara kita berpikir. Jika anda mau menerima dari Allah, anda harus terus meminta, meminta sehingga anda menerimanya. Jangan menyerah sebelum anda menerima. Bagaimana Yakub menjadi Israel? Yakub bergulat dengan malaikat Tuhan sepanjang malam. Sepanjang malam ia berkata kepada Tuhan, "Berkatilah aku, berkatilah aku. Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu memberkati aku." Anda mungkin berkata, 'Betapa beraninya Yakub menangani malaikat Tuhan dalam cara ini. Ia tidak menjawab, dan anda terus berpegang kepadanya dan berkata, "Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu memberkati aku."' Wah, sangat tidak tahu malu orang ini! Orang ini bahkan tidak punya sedikit kesopanan. Dengan manusia anda tidak akan berbuat ini, lalu bagaimana anda bisa menangani seorang malaikat Allah dalam cara ini? Mengapa Allah tidak langsung memberkati dia dan berkata, "Okelah, Aku berkatilah kamu. Pergilah. Aku sudah memberkati kamu" Seperti seorang anak kecil yang terus menerus menganggu anda setiap waktu, mengapa tidak berikan kepadanya apa yang ia minta agar ia pergi? Namun, Allah tidak berpikir dengan cara ini. Ia mengasihi orang yang tidak menyerah, yang terus menerus meminta. Dan pada akhirnya, malaikat Tuhan berkata, "Kamu sudah menang di atas Allah, dan dari sekarang, namamu adalah Israel." Saya begitu berharap orang Kristen akan belajar prinsip ini. Anda bertekun sehingga anda menerimanya. Ingatkah anda tentang perempuan Sirofenesia yang terus berkata, "Sembuhkan anakku. Sembuhkan anakku," sehingga para murid berkata, "Mengapa Engkau tidak menyuruh dia pergi? Ia mengganggu dan menjengkelkan kita." Apakah perempuan ini menjengkelkan Tuhan Yesus? Tidak. Ia menjengkelkan murid-muridNya, tapi Tuhan Yesus tidak terganggu. Tuhan mengasihi dia. Tuhan berkata, "O perempuan, besar imanmu, Jadilah seperti yang telah kamu minta."

Ada kalanya, kita merupakan orang yang maukan segala sesuatu secara instan. Tuhan, berikan kepada saya di waktu ini juga. Di waktu ini juga. Tapi Tuhan mau melihat sejauh mana kita sesungguhnya menghendakinya. Harga yang setinggi mana yang sanggup kita bayar untuk memperolehnya? Ia sedang melatih kita lewat permintaan kita, dengan gigih secara terus menerus meminta. Bukan dengan cara yang mudah, hanya dengan sekali meminta dan anda mendapatkannya. Ia menghendaki orang yang bertahan hingga ke akhirnya, orang yang dapat bertahan sampai ke akhirnya.

Perhatikan keindahan ayat 7 di fasal 7 buku Matius. Kita sudah melihat begitu banyak kekayaan di dalam ayat yang indah ini. Dalam nas aslinya, ayat ini mengandungi sebelas perkataan. Tapi seperti permata indah mengungkapkan kebenaran, seperti intan yang dipotong dari pelbagai sudut yang berbeda dalam memancarkan terangnya, kekayaan maknanya dapat dilihat dari pelbagai sudut. Pertimbangkanlah ini, apakah yang terjadi apabila anda mencari jalan menuju ke tempat tertentu. Pertama, anda akan menanyakan jalannya. Dan setelah menerima informasi tentang arahnya, anda akan mencarinya. Dan setelah tempat itu ditemukan, apa yang anda lakukan? Anda mengetuk pintunya agar dapat masuk. Bukankah sangat indah gambaran ini? Inilah persis urutan kata-kata Tuhan Yesus di ayat ini. Minta, cari dan ketuk. Di Matius 2, ketika orang-orang magus mencari Yesus, anda akan menemukan urutan yang sama disitu. Di ayat 2, dikatakan mereka bertanya dimanakah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Di ayat 8, setelah bertanya, mereka pergi dan mencari. Di ayat 11, mereka menemukan dan setelah mereka menemukan, mereka mengetuk dan masuk. Itulah hukum orang Yahudi, anda tidak masuk pintu tanpa terlebih dahulu mengetuk. Jadi Tuhan Yesus sedang berkata bahwa sama seperti orang-orang majus mencari Tuhan Yesus dan Raja Kerajaan, jadi kita juga mencari. Kita meminta, mencari dan mengetuk agar kita dapat masuk.

Tentu saja, motif kita meminta, mencari dan mengetuk itu sangatlah penting. Kita menemukan di Matius 2 bahwa Herod juga bertanya di manakah Mesias akan dilahirkan. Ia juga mencari. Ia juga sedang mencari, tapi motifnya salah. Oleh karena itu, ia tidak menemukannya. Jadi kita melihat bahwa motif, alasan mengapa kita meminta sesuatu dari Tuhan itu sangatlah penting. Allah melihat hati kita. Jadi, sekali lagi inilah tanggungjawab kita dalam kasih karunia Allah. Kita mau mencari Tuhan Yesus, mencari Kerajaan Allah. Namun terdapat tiga hal yang harus kita lakukan di pihak kita. Ada tanggungjawab di pihak kita. Apabila anda meminta, anda menggunakan mulut. Apabila anda mencari, anda menggunakan mata. Apabila anda mengetuk, anda menggunakan tangan. Ini mewakili seluruh pribadi, maka seluruh keberadaan terlibat dalam mencari Kerajaan Allah. Jadi mencari Tuhan dengan segenap jiwa, akal budi dan kekuatan.

Tentu saja, sebagaimana yang telah kita lihat, hal mencari berhubungan dengan ayat-ayat yang sebelumnya dan juga ayat-ayat yang sesudahnya. Ia berhubungan dengan hal tentang mencari kerajaan Allah. Carilah KerajaanNya dan kebenaranNya dan dalam melakukan itu, tentu saja kita sedang mencari hidup kekal dalam Allah. Dan setelah kita tiba, apakah yang kita lakukan? Kita mengetuk di pintu gerbang hidup kekal. Disini anda melihat hubungan yang menakjubkan langsung setelah perikop ini di ayat 14. Karena sempitlah pintu dan sesaklah jalan yang menuju kepada kehidupan bagi mereka yang menemukannya. Jadi kita melihat bahwa dalam meminta, mencari dan mengetuk, semua bentuk dasar kegiatan manusia terlibat. Seluruh keberadaan kita terlibat. Apabila anda mau mencari hidup, anda tidak hanya mencari dengan sebagian dari keberadaan anda. Pencarian akan Tuhan dapat diwakili dengan kata-kata, "dengan segenap jiwa, akal budi, kekuatan".

Marilah kita pertimbangkan tentang hal mengetuk. Kita sudah panjang lebar berbicara mengenai meminta dan kita juga sudah sedikit menyentuh tentang mencari. Dalam berbicara mengenai pengalaman rohani. Nat ini dalam bahasa aslinya, terdapat bentuk tatabahasa yang disebut "divine passive", yaitu kalimat, "mintalah maka akan diberikan". "Akan diberikan" adalah bentuk pasif. Dalam Alkitab, bentuk kalimat yang bersifat pasif ini yaitu "akan diberikan", selalu bermakna bahwa Allah akan memberi. Bentuk kalimat yang disebut "divine passive" ini bermakna Allahlah yang akan melakukannya. Jadi dikatakan, "ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu", ini bermakna Allah akan membukanya. Allah akan membuka pintu itu. Ini tentu saja bermakna apabila anda meminta dan Allah menjawab, anda mengalami satu pengalaman rohani, anda mengalami sesuatu yang dilakukan Allah.

Banyak orang berkata kepada saya, "Saya akan menjadi orang Kristen yang jauh lebih kuat jika saya mengalami pengalaman rohani yang anda miliki. Anda selalu membagikan pengalaman rohani, jika saya memiliki pengalaman rohani yang anda miliki, saya juga akan mempunyai kekuatan dan iman rohani yang sama dengan anda." Tapi, saudara yang terkasih, tidak ada orang yang langsung begitu saja mengalami pengalaman rohani yang sedemikian. Bagaimana anda mendapatkan pengalaman rohani yang sedemikian? Tuhan Yesus sedang memberitahu kita di sini. Tidak ada misteri. Sangat sederhana. Bagaimana saya mengalami hal-hal indah yang Allah berikan kepada saya? Karena saya memintanya. Bagaimana saya menemukan kekayaan rohani dalam Allah? Karena saya mencari. Bagaimana saya masuk ke dalam pengalaman hidup yang baru? Dengan mengetuk pada pintu itu. Anda tidak mempunyai karena anda tidak meminta. Anda tidak menemukan karena anda tidak mencari. Anda tidak masuk karena anda tidak mengetuk dan oleh karena itu pintu tidak dibuka bagimu.

Ingatlah selalu bahwa kasih karunia Allah tersedia untuk diberikan kepada anda, mengapa anda tidak meminta? Itulah sebabnya mengapa begitu banyak orang Kristen hidup dalam kemiskinan rohani karena mereka tidak masuk dengan iman, melangkah masuk untuk meminta, seperti Yakub, "Tuhan, berkatilah saya O Tuhan dengan berkat rohani. Saya tidak mempunyai kekuatan. Saya lemah." Mintalah dari Allah. Kuasa Allah tersedia bagi anda. Jangan membuang waktu, apa lagi yang ditunggu anda? Jika anda belum selamat, apa lagi yang anda tunggu? Allah bersedia untuk menyelamatkan anda, anda hanya perlu meminta. Tapi Allah tidak akan memaksa anda. "Mintalah dan ia akan diberikan kepada anda." Apakah ini tidak cukup untuk menyakinkan anda? Apakah anda berpikir bahwa Tuhan sedang berdusta? Baiklah, anda boleh mengujinya untuk melihat apakah Ia berdusta. Banyak orang Kristen berkata, "Allah tidak nyata bagi saya." Nah, bagaimana Ia akan menjadi nyata kepada anda melainkan anda meminta, anda mencari dan anda mengetuk. Bagaimana Ia menjadi nyata bagi anda? Ia tidak akan menjadi nyata bagi anda melainkan anda bertemu dengan Dia. Dan bagaimana anda akan bertemu dengan seseorang melainkan anda pergi, anda mencari tempatnya, anda mencari alamatnya dan anda mengetuk di pintunya. Dan apabila ia membuka pintu, anda berkata, "Ah, sekarang saya sudah bertemu dengan anda." Jika tidak, bagaimana anda akan bertemu dengannya? Jadi, mengapa orang berkata kepada saya, "Mengapa Allah begitu nyata bagi anda dan Ia tidak nyata bagi saya?" Tuhan tidak memberikan kepada saya suatu rahasia yang tidak Ia berikan kepada anda. Semuanya sudah tercatat di sini. Satu ayat yang begitu bernilai di ayat 11 dalam bahasa Yunani. Perhatikan bahwa Ia mempertaruhkan seluruh reputasi pada ayat tersebut. Ia menantang anda. "Aku akan memberikan kepada kamu." Mintalah. Ujilah Aku dan lihatlah. Saya sering berkata, bahwa bukan Allah yang takut dengan tantangan. Kitalah yang takut untuk menerima tantanganNya. Jadi, Ia mengundang kita untuk datang kepadaNya. Datanglah kepada Aku, tanyalah jalanNya. Carilah jalannya, ketuklah pada pintunya dan anda akan bertemu dengan Aku. Tapi Ia tidak pernah berkata ini hal yang mudah, memang terdapat tiga hal yang perlu dilakukan. Tapi jika anda siap untuk bertekun, jika anda siap untuk membayar harga yang tidak seberapa itu, tidak kira apa harganya, maka kita akan bertemu dengan Dia, mengalami satu pengalaman yang hidup dengan Allah.

Dan akhirnya, dikatakan di sini, "Ketuklah pada pintu." Dan tentu saja Gereja Allah digambarkan sebagai satu bangunan. Jadi di akhir jalan tersebut, di akhir permintaan, pencarian, kita pada akhirnya tiba ke kediaman Allah, di GerejaNya. Itulah alasan mengapa Tuhan Yesus berkata, "Aku akan membangunkan gerejaKu dan kuncinya Aku berikan kepada hamba-hambaKu." Anda melihat seluruh hal ini dilukiskan sebagai bangunan, di mana anda tiba ke pintu gerbang, kepada pintu, dan anda mengetuk pada pintu itu. Setelah anda masuk, terdapat kamar-kamar yang berbeda-beda. Di rumah BapaKu, terdapat banyak kamar. Anda harus mengetuk pada pintu yang tepat. Jadi sekarang, kita melihat seluruh nilai ajaran Tuhan Yesus. Ia telah mengundang kita untuk datang dan bertemu dengan Dia, asalkan kita siap untuk melakukan tiga hal ini, dan melakukan dengan penuh ketekunan. Saya telah menguji Firman ini, dan telah membuktikan bahwa ia benar. Ujilah untuk mengetahui kebenaran Firman ini. Saya tidak akan dapat memberitakan Firman Allah dengan penuh keyakinan melainkan saya telah membuktikan dalam pengalaman saya sendiri dan menemukan bahwa ia benar. Dalam memberitakan Firman Allah, saya tidak memberitakannya dari pengetahuan theologia. Saya tidak berkotbah semata-mata dari pengetahuan Alkitab. Saya memberitakannya dari satu keyakinan yang berapi-api dari hati saya bahwa setiap kata yang diucapkan oleh Tuhan Yesus adalah benar. Mintalah, dan ia akan diberikan kepadamu. Anda tidak perlu keluar dari pertemuan hari ini dan berkata, "Baiklah, saya tidak tahu bagaimana harus bertemu dengan Allah. Saya tidak tahu bagaimana untuk mempunyai pengalaman rohani." Firman dari ayat ini akan memberikan kita jawabannya.

Sebagai kesimpulan, saya mau membagikan tentang kunjungan saya ke Trent satu setengah tahun yang lalu. Beberapa di antara kalian tahu bahwa saya berhadapan dengan suatu masalah, dan terdapat saat-saat kritis di mana saya nyaris tidak dapat ke konferensi di Trent tersebut. Beberapa di antara kalian juga tahu bahwa Allah membuka jalan untuk saya pergi tapi kebanyakan dari kalian tidak tahu bagaimana Allah melakukannya. Apa yang terjadi adalah, sekitar setahun yang lalu, Komite Kamp Trent mengundang saya untuk berbicara di konferensi tersebut. Di Konsular Kanada, Wakil Konsulnya memberi jaminan kepada saya bahwa tidak akan ada masalah visa dengan perjalanan saya ke Kanada untuk berbicara di Kamp Trent, jadi saya tidak perlu jauh, jauh hari memasukkan permohonan untuk visa. Jadi seminggu sebelum Konferensi itu saya ke Konsular Kanada untuk mengambil visa saya dan kali ini saya menghadap pegawai yang lain. Dan ia memberitahu saya bahwa ia tidak dapat langsung memberikan visa kepada saya. Saya memberitahunya bahwa Wakil Konsul sudah memberitahu saya bahwa visa dapat langsung diberikan kepada saya. Tapi menurut pegawai tersebut, itu satu kekeliruan dan saya harus terlebih dahulu membuat permohonan ke Ottawa. Itu sudah hari Jumat, satu minggu sebelum Kamp Trent, sekitar 6 hari sebelum konferensi itu. Dan saya perlu tiba ke Trent pada malam Kamis. Dan tentu saja, pada hari Jumat, kantor pemerintah akan tutup. Lalu saya berkata, "Terdapat satu konferensi di Trent, di mana beberapa ratus orang menunggu untuk mendengarkan Firman Allah. Apakah anda memberitahu saya bahwa saya tidak akan diberikan visa untuk pergi ke sana?" Saya melanjutkan, "Kira-kiranya apa yang akan dikatakan oleh panitia kamp? Dari mana mereka akan mencari pembicara lain? Apakah 6 hari waktu yang cukup untuk mencari pembicara yang baru?" Pegawai itu berkata, "Ini di luar kekuasaan saya. Wakil Konsul sudah membuat kekeliruan. Saya minta maaf atas kekeliruannya tapi saya tidak mempunyai otoritas untuk memberikan kepada anda visa tersebut." Saya bertanya, "Apa yang dapat anda lakukan?" Ia menjawab, "Saya dapat mengirim surat kawat langsung ke Ottawa, tapi dalam pengalaman saya bekerja di konsular, hal itu membutuhkan beberapa hari dan jawabannya tidak akan tiba tepat waktu." Jadi ia bertanya, "Apakah anda mau saya mengirimkan surat kawat tersebut, walaupun saya dapat memberitahu anda bahwa jawabannya tidak akan tiba sebelum anda dijadwalkan berangkat? "

Walaupun waktu itu sudah akhir pekan dan tidak ada orang di kantor, saya berkata kepadanya, "Kirimlah surat kawat tersebut." Bayangkan perasaan saya sewaktu saya meninggalkan kantor consular itu. Sekalipun ini bukan kekeliruan saya, tapi seluruh rencana untuk kamp macet. Saya berpikir, "Apa yang akan dilakukan oleh panitia kamp?" Jika saya tidak pergi, saya tidak rugi apa-apa. Tapi bagaimana dengan orang-orang di sana?" Saya pulang dan mengajak istri saya sama-sama berlutut berdoa kepada Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Saya harus berangkat pada hari Rabu agar dapat tiba pada hari Kamis di Trent. Bagaimana mungkin untuk menerima visa pada hari Rabu agar tidak terlambat? Apa yang saya lakukan? Saya pergi kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, Engkaulah Allah. Di ayat ini, dikatakan, 'Mintalah, dan kamu akan menerima'. Apa yang saya minta murni untuk kemuliaan Allah, murni untuk GerejaNya. Saya sama sekali tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam hal ini. Saya datang di hadapan Tuhan dan berkata, "Saya akan meminta sesuatu yang sangat, sangat khusus dan saya tahu Engkau akan dan Engkau dapat melakukannya." Jadi saya menuliskan satu program kerja yang sangat sederhana. Agar dapat berangkat pada hari Rabu, saya harus mendapatkan visa pada hari Selasa. Agar visa itu dapat tiba ke Inggris pada hari Selasa, maka ia harus diproses di Ottawa pada hari Senin langsung setelah ia tiba dari Inggris. Kalian yang mengenal cara kerja kantor pemerintah akan tahu bahwa hal-hal ini sama sekali tidak mungkin! Bagaimanapun saya bertekad untuk meminta sesuatu yang tidak mungkin. Kantor di Ottawa itu harus menangani surat kawat yang dikirim dari kantor konsular di seluruh dunia, bukan hanya dari kantor konsular di Inggris. Bagaimana mungkin saya mengharapkan visa saya diproses langsung setelah diterima dan dikirim kembali ke Inggris pada hari yang sama? Saya meminta pada Tuhan dengan berkata, "Tuhan, surat kawat dari Ottawa tiba ke Manchester pada hari Selasa dan saya mendapatnya pada hari Selasa juga. Pada hari Rabu, saya sudah di pesawat. Tuhan, tolonglah." Memandang kembali, sepertinya sangat sederhana.

Pada hari Sabtu, saya berjalan-jalan di taman bersama Helen dan saya berkata kepadanya, "Anda akan menjadi saksi saya tentang apa yang akan dikerjakan oleh Allah. Jika saya memberitahu anda setelah peristiwa ini terjadi, bahwa saya mendoakan hal ini, maka anda tidak akan mempunyai bukti selain dari kata-kata saya. Jadi saya mau memberitahu anda sebelum jawaban doa itu terkabul, apa yang telah saya doakan. Saya bukan sekedar mendoakan hal ini tapi saya sepenuhnya yakin bahwa doa ini akan terjawab dan andalah yang menjadi saksi saya bahwa saya memberitahu anda hal ini beberapa hal sebelum ia terkabul." Segala sesuatu terjadi persis seperti yang saya minta dari Tuhan dan Ia mengabulkannya persis dalam cara yang saya minta. Pada hari Selasa, saya mendapatkan visa dan membeli tiket pesawat. Pada hari Rabu, saya sudah di atas pesawat dalam perjalanan ke Kanada. Anda harus melihat wajah-wajah terkejut pegawai-pegawai di kantor konsular. Tidak terlintas di pikiran mereka bahwa keputusan dari kantor Ottawa tiba dengan begitu cepat.

Saya dapat membagikan begitu banyak pengalaman tentang jawaban doa dari Allah tapi semuanya itu bermula dengan meminta, mencari dan mengetuk. Saya menjadi seorang Kristen ketika saya duduk di halaman penjara Komunis dan meminta bantuan Tuhan dan Ia melakukannya. Saya meminta dan Ia menjawab, dan Ia menjawab dengan begitu cepat! Suatu pengalaman yang sangat menakjubkan. Itu berarti bahwa Allah selalu rindu untuk menjawab asalkan anda sudi meminta dan Ia tahu bahwa anda meminta dengan tekun dan tekad. Saudara yang terkasih, saya memohon pada kalian agar kalian mengambil kata-kata Tuhan Yesus dan buktikanlah keabsahannya dalam hidup anda sendiri. Cara untuk mempelajari Alkitab, cara untuk memahami ajaran Tuhan Yesus bukanlah hanya membaca dan mendengar khotbah. Tapi, keluar dan membuktikannya, dan anda akan menemukan, "Ah, Tuhan, sesungguhnya benar. Sangat indah." Dengan cara ini, anda akan tahu bahwa anda sedang berurusan, sedang berbicara dengan Allah yang hidup. Bahwa Bapamu, Ia adalah Allah Surga dan Bumi. Maka hati anda akan dipenuhi oleh sukacita yang berkelimpahan. Persis seperti apa yang Tuhan Yesus katakan kepada para muridNya di Injil Yohanes, "Mintalah, dan anda akan menerimanya agar sukacitamu menjadi penuh."

Meminta Tidak Pada Tempatnya

Ayat bacaan: Markus 6:25
====================
"Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!"

meminta tidak pada tempatnyaKarena tidak tahan anaknya meminta baju baru, seorang tukang ojek nekad menjadi kurir ganja. Saya membaca berita ini kira-kira setahun lalu di sebuah harian ibukota. Ketika ia tertangkap ia pun menyesali perbuatannya, tetapi semuanya sudah terlambat, karena ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum dan harus mendekam di di dalam penjara. Ini baru satu dari sekian banyak berita yang menunjukkan betapa banyaknya orang yang terjerumus dalam kejahatan karena tidak ingin mengecewakan permintaan anak atau anggota keluarga lainnya. Tidak jarang pula kejahatan itu menjadi sedemikian parahnya sehingga harus menghilangkan nyawa orang lain. Khilaf akan selalu menjadi alasan mereka. Penyesalan akan selalu ada, tetapi konsekuensi jelas harus ditanggung, karena mereka tidak akan pernah bisa kembali ke waktu lalu dan mengubah keputusan mereka untuk melakukan kejahatan. Ada banyak contoh kasus kejahatan yang dimulai dari permintaan atau tuntutan dalam keluarga. Bisa karena terlalu sayang anak/istri sehingga tidak tega menolak, bisa karena terbeban hutang budi, dan sebagainya, dan mereka akan terjebak dalam sebuah tindak kejahatan yang seringkali fatal. Bukan hanya mencuri, namun dalam banyak kasus sampai membunuh karena terdesak dan sebagainya.

Bagi teman-teman yang sudah mempunyai anak yang sedang beranjak dewasa anda mungkin sudah sering mendengar rengekan permintaan anak akan banyak hal. Minta blackberry karena semua teman-teman sudah punya, atau takut diejek teman ketinggalan jaman. Kalau sudah beranjak dewasa mereka akan mulai minta dibelikan kendaraan dan sebagainya. Kalau memang mampu memang tidak masalah. Namun bagaimana jika tidak mampu, bagaimana rasanya telinga dan hati merasakannya? Ini sering membuat orang tua menjadi gelap mata dan mengambil keputusan yang salah. Dosa mengintai disana, siap menerkam dan menelan kita, hingga pada suatu ketika kita akan berada pada sebuah situasi dimana penyesalan menjadi tidak lagi ada gunanya.

Ayat bacaan hari ini mencatat kisah tragis dari kematian Yohanes Pembaptis yang dilakukan dengan sangat sadis. Meski Herodes pernah ditegur oleh Yohanes karena mengambil istri saudaranya sendiri, namun dalam hatinya ia tahu Yohanes benar dan suci. Sementara Herodias, istri saudaranya yang ia ambil menaruh dendam akan Yohanes dan berusaha mencari jalan untuk membunuhnya karena merasa sakit hati. Pada suatu kali, anak perempuan Herodias menari dan menghibur tamu-tamu Herodes. Herodes merasa senang sekali sehingga kelepasan memberi janji akan mengabulkan apapun yang ia minta, bahkan setengah dari kerajaannya sekalipun. (Markus 6:22-23). Lalu si anak berdiskusi pada ibunya, dan sang ibu melihat kesempatan emas untuk membunuh Yohanes. Dan inilah yang terjadi. "Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" (ay 25). Karena terlanjur berjanji dan takut malu, Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan untuk memenggal kepala Yohanes dan menghadirkannya di atas talam/baki sesuai permintaan. Karena malu jika tidak memenuhi janji kepada seorang gadis kecil, mungkin juga karena cintanya yang begitu dalam akan Herodias, ia pun menghilangkan nyawa Yohanes yang ia tahu tidak bersalah apa-apa.

Bagi teman-teman yang masih remaja, berhati-hatilah dalam meminta. Dalam kondisi ekonomi yang semakin berat ini, permintaan-permintaan yang terlalu berat bagi orang tua bisa menyusahkan hati orang tua bahkan bisa membuat mereka terjerumus jatuh ke dalam dosa. Apakah dengan melakukan korupsi, mencuri, bahkan tindakan kekerasan yang merugikan orang lain dapat terjadi karena mereka tidak tahan mendengar tuntutan anak-anaknya. Tekanan atas tuntutan di luar kemampuan bisa menjerumuskan orang ke dalam jurang dosa yang mematikan. Janganlah karena ingin tampil lebih di hadapan orang, kita kemudian tega mengorbankan orang tua kita sendiri. Jagalah diri kita selalu agar jangan menghambakan uang dan kekayaan, seperti yang diingatkan Paulus. "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:9-10).

Para remaja yang masih tinggal dengan orang tuanya harus mau belajar untuk mampu melihat kondisi orang tuanya. Janganlah terlalu banyak menuntut atau meminta sesuatu yang akhirnya bisa membuat orang tua merasa tertekan, malu atau sedih hatinya. Ada banyak tindak kejahatan dan kekerasan bisa timbul dari sini. Jika orang tua merasa tertekan karena tidak mampu memenuhi permintaan, mereka suatu saat bisa terdesak dan melakukan tindak kekerasan/kejahatan. Demikian juga antara pasangan suami istri. Istri pun hendaknya bisa mengetahui batas kemampuan suaminya dan tidak menuntut jauh di atas kemampuan suaminya. Pikirkan dulu baik-baik sebelum meminta sesuatu, agar kita tidak menghancurkan hidup orang yang kita sayangi dan orang lain. Herodes mengambil sebuah keputusan yang fatal hanya karena kelepasan bicara dan tidak sanggup menutupi rasa malunya jika menolak. Marilah kita sama-sama belajar agar tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama.

Sebuah permintaan yang tidak pada tempatnya bisa membawa konsekuensi buruk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar